SEMPURNA

Dia menarik stocking-nya dengan kekuatan nyaris penuh. Dan nyaris pula stocking berwarna hitam itu robek karenanya. Sesaat dia mengatupkan tangan ke mulutnya. Setelah dipastikan stocking itu melekat tepat di tubuh bagian bawahnya, dia memasukkan kakinya satu per satu ke rok pensil bermotif kotak-kotak tartan dengan warna hijau lumut. Warna kesukaannya. Dilanjutkan mengenakan blus dengan warna senada, lalu dia mematut dirinya di depan cermin besar dalam kamar.

Sempurna, pikirnya.

Continue reading “SEMPURNA”

Akhir

Ingatan terakhirku adalah aku mencium laki-laki itu. Laki-laki tampan yang memberiku langit untuk kutulis kata-kata cinta. Sekarang segalanya tampak buram. Secara harafiah. Pandanganku berputar dan mengabur. Nyeri terasa di kedua tanganku. Aku menyadari betapa mulutku terasa kering ketika telingaku menangkap suara tetes air. Berasal dari keran? Ataukah rintik hujan?

Continue reading “Akhir”