31 Desember

photo from pinterest
Hari ini tanggal 31 Desember. Ai menelusuri isi blognya yang sudah berusia enam tahun. Setiap desember Ai biasa menuliskan rangkuman berkatnya yang ia terima selama setahun. Tidak hanya berkat, namun juga kesialan-kesialan yang ia rasakan. Tapi setiap Ai pikir-pikir lagi, kesialan-kesialan tersebut sesungguhnya adalah berkat dengan caranya sendiri.

Ai mematut dagunya. Apa yang sebaiknya ia tuliskan. Tahun ini sungguh bukan tahunnya. Bahkan tantangan membaca yang ia ikuti di situs goodreads pun tak bisa ia penuhi. Ai rasa tahun ini ia terlalu sibuk untuk tidak sibuk. Membingungkan. Tapi, itulah yang Ai rasakan.
Continue reading “31 Desember”

Sore

gambar dari pinterest

Amos selalu membawa gantungan kunci berbentuk kucing hitam dengan lonceng kecil berwarna merah melingkar di lehernya. Ia mengaitkannya di kunci mobil. Setiap Amos menarik kunci mobil itu dan memasukkannya ke dalam saku atau tas kerjanya, lonceng kecil tersebut bergemerincing samar. Akan terdengar jika benar-benar memasang telinga. Tapi, Raina selalu bisa mendengarnya. Seperti saat ini.

Continue reading “Sore”

Oase

morning beach

Bahwa pertemuan dengannya adalah selalu yang terakhir. Setidaknya, aku selalu memperlakukan pertemuan kami seperti itu. Dengan demikian, aku selalu menikmati setiap detik yang kami habiskan bersama, meski hanya duduk diam tanpa ada percakapan apa pun. Aku menikmati keberadaannya di sampingku. Karena setelah itu, tidak akan ada lagi. Mungkin.

Saat ini masih pukul sembilan pagi. Ombak menggulung-gulung datang ke pantai dari tengah laut. Tapi hujan sedang tumpah, jadi kami membereskan alas duduk kami dan berteduh di warung terdekat. Setelah memesan dua gelas kopi instant, kami melanjutkan kegiatan sebelumnya; menikmati laut.

Kenapa kamu suka hujan, Mii? tanyanya.

Continue reading “Oase”

Meet You

jendela (gambar dari tumblr)

Ia senang duduk di tepi jendela. Memandangi kehidupan dari balik kaca, ucapnya, ketika kutanya mengapa. Tidakkah itu menyedihkan? tanyaku kembali. Ia mengalihkan tatapannya – dari memandangi kehidupan – ke mataku. Lalu sudut bibir kanannya menyungging senyum. Satu dari sekian banyak hal yang kusuka darinya.

Hal itu, Mii, tergantung bagaimana kamu memandangnya.

Aku masih tak mengerti. Aku selalu tak mengerti hal-hal yang ia katakan. Terlalu berat. Terlalu penuh filosofi dan siratan.

Jadi maksudmu, menurutku kehidupan itu menyedihkan? Aku masih berusaha menyambungnya.

Sunggingan di sudut bibir kanannya berubah menjadi tawa kecil. Bukan begitu maksudku. Sudah, deh, Mii, kalo nggak ngerti, nggak ngerti aja.

Continue reading “Meet You”