9:: Kembali

[text in bahasa]

Sekolah kami tidak membuat perubahan kelas setiap tahun ajaran baru berlangsung. Karena itu kami tetap bersama teman-teman sekelas yang sama selama tiga tahun. Dan karena itu juga Chizu mulai bersungut lagi saat kenaikan kami ke kelas dua. Ia tidak bisa satu kelas dengan Ryuichi dan aku hingga kami lulus nanti. Tapi seperti biasanya, satu ucapan dari Ryuichi segera menghentikan kekesalan Chizu.

Seragam sekolah sudah berganti dengan lengan pendek pada awal musim panas, dan Ryuichi serta Chizu semakin sibuk dengan kencan-kencan mereka dan kegiatan klub. Ryuichi dan klub basket sebentar lagi akan turut bertanding di kejuaraan daerah, itu sebabnya kegiatan klub mereka akhir-akhir ini berlangsung lebih lama dari biasanya. Sudah tentu Chizu ikut sibuk, karena ia manager klub basket.

Dan aku sendiri juga lebih banyak menghabiskan waktu di klub – selain part time tiga kali seminggu di cake-shop milik Miku-san. Lukisanku kemarin tidak memenangkan satu pun penghargaan. Karena itu tahun ini aku berusaha keras agar dapat terpilih lagi mewakili sekolahku.

Sore itu aku baru saja kembali dari pekerjaan part time-ku di cake-shop Miku-san. Aku selalu melewati rumah Ryuichi dalam perjalanan pulang, tapi biasanya Ryuichi belum kembali dari kegiatan klubnya.

Kali ini berbeda. Pintu gerbang rumah Ryuichi terbuka dengan kasar, suaranya terdengar jelas olehku yang sedang berjalan tidak jauh darinya. Ryuichi keluar dari dalam, ia berlari menuju arahku, tapi matanya tidak melihatku. Ia sedang berlari menjauhi sesuatu atau seseorang dari dalam rumahnya. Sedetik kemudian seseorang menyusul Ryuichi keluar. Seorang pria seusia ayah, namun lebih tua, memanggil Ryuichi dengan nada putus asa. Ia tidak mengejarnya.

Continue reading “9:: Kembali”

Advertisements

8:: Tatsuya

[text in bahasa]

Tatsuya cukup menyenangkan. Aku baru bertemu dengannya dua kali. Dan hanya satu kali menghabiskan waktu dengannya – itu pun hanya empat atau lima jam. Tapi ia membuatku seolah-olah telah mengenalnya dengan baik.

Selama empat – lima jam tersebut, Tatsuya banyak bercerita. Seperti yang sudah kuduga saat pertama kali aku bertemu dengannya Desember yang lalu, Tatsuya orang yang ceria dan hangat. Aku sempat terpesona sesaat ketika Tatsuya tiba-tiba menghentikan pembicaraan kami untuk menolong nenek Shimizu – pemilik toko jajanan yang pernah kuceritakan dulu – yang kebetulan sedang berjalan dengan menenteng begitu banyak bawaan di tangannya. Akhirnya aku dan Tatsuya membantu membawakan barang nenek Shimizu hingga ke tokonya yang tidak jauh dari tempat kami semula. Kemudian kami melanjutkan lagi perjalanan kami.

Kadang Tatsuya terdiam dengan tatapan kosong ketika giliran aku berbicara. Saat aku pura-pura marah dan menuduhnya tidak mendengarkan, dia hanya tertawa kecil sambil minta maaf. Dia tertawa, tapi matanya tidak.

Continue reading “8:: Tatsuya”

7:: Giri Choko

[text in bahasa]

Tahun baru berlalu seperti biasanya. Kami ke kuil untuk doa Tahun Baru pun seperti biasanya. Ryuichi bersikap seolah tak ada yang berubah di antara kami. Memang tidak ada yang berubah, kecuali status hubungannya dan Chizu, kecuali ciuman Ryuichi di depan rumahku bulan lalu – yang hanya diketahui oleh kami berdua.

Karena Ryuichi bersikap biasa, maka aku juga – tidak bisa tidak – harus bersikap biasa.

Musim dingin berlanjut hingga awal Februari. Bulan kedua dalam setahun ini bernuansa cinta. Karena ada hari valentine di bulan Februari. Setiap sudut kota dipenuhi oleh warna pink, hingga toko-toko dan warung-warung yang kental dengan suasana tradisionil pun tidak ingin kalah memeriahkan valentine. Sepertinya mereka tidak peduli kalau warna pink tidak sesuai dengan nuansa tradisional Jepang.

Tidak terkecuali Chizu. Kalau aku bisa melihat aura pada diri seseorang, dapat dipastikan Chizu dipenuhi aura berwarna pink. Aura cinta. Cintanya pada Ryuichi.

Sejak awal tahun, Chizu sudah menarikku mencari warna benang wol yang cocok untuk Ryuichi. Ia berencana akan merajutkan sweater untuknya. Dengan semangat ia menelusuri sudut toko. Setiap menemukan warna yang menarik, ia akan bertanya padaku, “Yang ini, Shoko?” Lalu tanpa menunggu jawabanku, dia akan meletakkannya kembali dan mengambil warna yang lain.

“Biru itu cocok dengan Ryuichi,” cetusku saat Chizu mengambil gulungan benang wol berwarna biru. Tiba-tiba saja aku ingat warna matanya yang kelabu.

“Benarkah?”

“Yah, menurutku sih.”

“Benar juga, lagipula, Ryuichi memang suka warna biru, kan?”

Begitu saja. Chizu setuju dengan pilihanku, dan ia mengambil beberapa gulungan benang wol biru, membawanya ke meja kasir.

Chizu seakan tak punya waktu untuk bernapas. Ia begitu menggebu-gebu. Dan ia menarikku terus untuk ikut merasakan kegembiraannya. Aku hanya mengikuti arusnya. Berharap kegembiraan yang Chizu rasakan dapat menghapus perasaanku pada Ryuichi.

Continue reading “7:: Giri Choko”

6:: Malam Natal

[text in bahasa]

Kotak kado mungil berwarna biru tua dengan pita perak itu berhenti di tanganku saat Hajime menghentikan alunan lagu dari CD player. Kado mungil yang indah, bernuansa natal. Warna Natal tidak hanya didominasi oleh merah, hijau, dan putih saja, kan?

Malam ini adalah malam Natal. Seperti yang telah direncanakan, kami mengadakan pesta Natal bersama. Bertempat di warung mie milik keluarga Hajime. Orang tua Hajime berbaik hati menyewakan gratis pada kami. Mereka bilang, “tidak ada orang yang makan mie pada malam Natal, jadi pakailah sesuka kalian.”

Setelah acara tukar kado selesai, kami semua langsung menyerbu makanan yang telah disajikan. Suara piring beradu, berdenting dengan sendoknya, dan mereka saling melemparkan gurauan dan ejekan kenapa tidak punya kekasih pada malam Natal ini. Kurasa, secara tidak resmi, pesta Natal ini telah berubah nama menjadi pesta depresi bagi para single di malam Natal.

Aku belum menyentuh makananku, masih memandangi kado mungil di tanganku. Kutarik pita perak itu perlahan, dan kubuka kotaknya. Sebuah cincin perak tergeletak dengan manis di dalam kotak itu. Cincin perak dengan bandul berbentuk bintang yang bergoyang-goyang.

Aku ingat cincin ini.

Continue reading “6:: Malam Natal”

5:: Cold Ocha

[Text in Bahasa]

Ujian sebelum datangnya liburan musim panas sudah di depan mata. Untuk sementara pikiranku terfokus pada hal itu. Begitu pula Chizu. Sepertinya ia mengesampingkan dulu rencana untuk menyatakan perasaannya pada Ryuichi.

Kami menghabiskan waktu untuk belajar bersama. Setelah beberapa kali bergiliran di rumah masing-masing, akhirnya kami memutuskan bahwa rumahkulah yang tepat untuk menjadi tempat tetap bagi kami belajar bersama.

Masalahnya, kami bertiga selalu tergoda oleh makanan saat belajar di tempat Ryuichi mau pun Chizu. Di rumah Chizu, masakan paman Mido selalu tak mampu kami tolak. Sementara di rumah Ryuichi, bibi Miyakawa selalu menyuguhkan kue-kue yang menggoda perut. Dan hal tersebut selalu membuat kami berpaling dari buku-buku di atas meja.

Namun musim panas pun terlewat begitu saja tanpa Chizu sempat menyatakan perasaan sukanya pada Ryuichi. Chizu sendiri pergi ke Osaka selama seminggu bersama orang tuanya di awal liburan musim panas, sementara Ryuichi pulang ke Tokyo nyaris selama waktu liburan. Sedangkan aku, tidak kemana-mana. Ayah sibuk di penginapan, jadi aku menghabiskan waktuku bekerja part time di mini market dekat sekolahku. Lumayan, menambah uang saku.

Dan akhirnya musim panas berakhir, berganti menjadi musim gugur yang mengubah warna daun pada deretan pohon di tepi bukit menguning. Semakin indah saat angin mulai merontokkan helaian daunnya.

Saat ini sudah memasuki bulan desember. Musim dingin. Suasana Natal sudah mulai terlihat. Tidak seperti Chizu yang tidak suka dengan musim dingin, aku sebaliknya. Itulah yang membuatku menyukai Hokkaido. Salju akan menumpuk pada bulan desember. Walau kadang sampai membuatku susah untuk berjalan, aku tetap cinta pada salju Hokkaido.

Continue reading “5:: Cold Ocha”