Meet You

jendela (gambar dari tumblr)

Ia senang duduk di tepi jendela. Memandangi kehidupan dari balik kaca, ucapnya, ketika kutanya mengapa. Tidakkah itu menyedihkan? tanyaku kembali. Ia mengalihkan tatapannya – dari memandangi kehidupan – ke mataku. Lalu sudut bibir kanannya menyungging senyum. Satu dari sekian banyak hal yang kusuka darinya.

Hal itu, Mii, tergantung bagaimana kamu memandangnya.

Aku masih tak mengerti. Aku selalu tak mengerti hal-hal yang ia katakan. Terlalu berat. Terlalu penuh filosofi dan siratan.

Jadi maksudmu, menurutku kehidupan itu menyedihkan? Aku masih berusaha menyambungnya.

Sunggingan di sudut bibir kanannya berubah menjadi tawa kecil. Bukan begitu maksudku. Sudah, deh, Mii, kalo nggak ngerti, nggak ngerti aja.

Continue reading “Meet You”

Kangen

Tahun miliknya dimulai dengan rasa kangen. untukmu. Entahlah, seharusnya buku itu sudah tertutup dan tersimpan dalam sebuah kotak yang terkunci rapat. Namun sesuatu menemukan kunci itu, menarik kotak tersebut dari sudut hati yang berdebu, membukanya, lalu membuka buku itu.

Buku itu berisi ribuan kata yang terangkai dalam surat-surat yang tak pernah sampai. Ribuan kata yang berlompatan keluar dari kepala dan hati; perasaan-perasaan yang pernah lahir karena kemunculanmu, rahasia-rahasiamu, senyum-senyummu, hingga saat dimana kamu memutuskan untuk menghilang. Juga saat di mana kamu muncul kembali, lalu menghilang kembali.

Continue reading “Kangen”

Dulu

Dulu aku selalu mengira akan jatuh padamu yang kerap duduk di bangku kafe itu. Yang menyesap secangkir kopi dengan penuh kenikmatan, lalu sibuk dengan laptop di depanmu. Atau diam mengamati orang yang lalu lalang di sekitarmu. Itu sebabnya, kan, kamu selalu memilih duduk di sofa di pojok ruang atau malah di tepi jendela kaca yang menghadap ke jalanan.

Dulu aku selalu mengira akan jatuh pada senyum yang menghasilkan satu lekuk di pipi kananmu, yang selalu hadir saat kamu mendapatiku mengintip dari balik buku yang sedang kubaca. “Apa yang sedang kamu lihat?” tanyamu. Biasanya aku hanya akan mencibir, atau mengajukan pertanyaan yang selalu kamu jawab dengan senyumanmu yang melebar; “Kenapa kita betah duduk bersama selama berjam-jam tanpa saling berbicara?” “Karena… it’s feels right.” jawabmu, lalu kembali memandangi jalanan.

Continue reading “Dulu”

Suara kecil dalam kepalaku

Pagi ini suara kecil dalam kepalaku kembali datang menyapa.

“Kenapa berhenti?” tanyanya. Aku menatapnya di dalam cermin.

Ia persis seperti diriku. Tenggelam dalam sebuah keinginan yang terus mengetuk.
Tapi ia tak sepertiku. Ia bersikukuh dengan keinginan kami. Ia tidak akan berhenti sekalipun semesta berhenti bernapas. Tapi tidak bisa begitu. Ia adalah aku. Betapapun besar meraih inginnya, akulah si pemegang kunci. Itu sebabnya ia terus bergaung dalam kepalaku. Membujuk.

“Kenapa berhenti?” ia mengulang pertanyaannya. Aku masih menatapnya dalam cermin.

Lalu ia mendesak karena aku hanya memberikannya sebuah tatapan yang seharusnya ia mengerti apa maknanya. Tapi ia tidak mau mengerti.

“Kenapa?!” ia nyaris memekik. Menarikku ke hadapannya. Meretakkan cermin.

Retakan itu membuat meja bergoyang dan menjatuhkan sebuah kotak kecil yang menghamburkan isinya. Dua cincin, beberapa klip rambut, sepasang giwang, dan sebilah silet tipis yang biasa kupakai mengerik alis.

Berkilat di mataku.