I need…

something big. Happy big, not just big. A happy big that will change me to be a better me. Kinda enough with several saddy and crappy big.

But I know that happy big will not come if i just sit here and waiting. so, I’ll pursue it. Screw the judging people! Yes, I kinda sick with you all. I need surround with people whom really really know what the dream is.

happy

So, wait for me, Happy Big 🙂

Advertisements

Daun Pagi

Di satu hari hujan, aku bermimpi tentangmu. Hanya sebuah hari biasa, seperti hari-hari yang ada, hari-hari yang tidak pernah berisikan sesuatu spesial di antara kita. Karena memang tidak pernah ada.

Aku bermimpi tentang suaramu yang khas, tawamu yang selalu bisa kukenal meskipun dirimu tak terlihat. Tentang passion-mu kepada langit. Tentang matamu kepada helai daun yang tersentuh embun pagi.


Continue reading “Daun Pagi”

[My] Dreams

I miss my dreams, who recently left at the end of my priorities. dusty.
I know they are often looked up at me from that corner.
They were waiting for me back at them.
They wanted me to pursue them.

Actually, they need no worry.
Because here I am, going back after them.

Tentang Bigheart

Entah kenapa mimpi-mimpi saya sebagian besar berkaitan dengan dunia buku dan dunia anak. Bahkan pekerjaan saya sekarang pun berada dalam dua dunia tersebut. Mungkin memang jodoh saya, yes 😉

Saya punya partner dalam mimpi-mimpi ini; sahabat saya sendiri. Walaupun dalam beberapa hal dan sifat, kami berbeda, sebagian besar dari diri kami adalah sama.

Nah, jauh sebelum saya bekerja di tempat sekarang ini, saya (dan sahabat saya) selalu ingin bisa menerbitkan majalah rohani kristen untuk anak-anak. Semua itu karena setiap kami ke toko buku, kami tidak pernah menemukan majalah sejenis. Kalaupun ada…. errrr… ehmmm, maaf, sungguh nggak oke :p.

Namun mimpi itu tersimpan begitu saja. Kami sering membicarakannya. Tapi, ya, hanya itu. Sampai pada awal 2008 lalu, sahabat saya datang dan berkata, “Hei, ayo kita buat majalah ITU!” Reaksi pertama saya adalah, “eh?” sambil lembaran-lembaran uang menari-nari dalam kepala saya. Anu… uang dari mana? Ketika itu saya masih freelancer, yang artinya uang datang ke kantong dalam waktu yang tidak bisa dipastikan. Lalu dia melanjutkan, “kita bertiga. Temen gw mau ikutan.” Dan ternyata mereka berdua sudah membuat konsep dasar majalahnya. Hanya beberapa detik ternganga sebelum saya menjawabnya, “ayo!”

Continue reading “Tentang Bigheart”