Pagi itu aku melihatmu

17-02-11-17-54-30-373_deco

Sayang,
Pagi itu aku melihatmu. Hujan merintik pelan. Orang-orang tengah bergegas menghindar. Tapi tidak kamu. Hujan adalah jiwamu. Ketika orang lain mengundang hujan di kala mereka dirundung sedih, bagimu ia datang di saat-saat terbaikmu.

Pagi itu aku melihatmu. Wajahmu menatap langit. Kukira kamu sedang tersenyum saat tetes hujan membasahi pipi merahmu. Tapi, tidak. Bibirmu yang ranum terasa datar. Dan itu bukan air hujan.

Sayang,
Apakah hujan mengkhianatimu? Apakah ia mencuri debar-debarmu, lalu melemparkannya hingga terbawa angin?

Aku masih melihatmu dan bertanya-tanya. Hujan semakin deras. Lalu, kamu menoleh. Mata kita bersitatap. Lama. Lekat. Dan kamu berbalik, berlari-lari kecil. Menjauh.

Sayang,
Detik itu aku tersadar. Kamulah yang mengkhianati hujan.

20140712-182020-66020008.jpg


in frame: SIG (pic from pinterest)

Advertisements

Hey you, thanks for reading. Let's talk now :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s