Tokyo Trip: Waktu yang Kurang

12308246_10153437698664263_7481549807888977726_n

Suatu hari, teman saya datang dan berkata bahwa ia akan pergi ke Korea. “Hadiah dari kantor,” katanya. Lalu, saya iri. Saya ingin sekali ke Korea, tentunya akibat ‘teracuni’ drama-drama Korea yang menjual kisah cinta manis dengan latar musim dingin. Saya yakin, banyak sekali perempuan Indonesia yang merasakan hal sama: ingin ke Korea.

Mungkin teman saya tak enak karena telah membuat iri :p, terlebih dia yang paling tidak mengerti soal Korea dan misuh-misuh tak suka setiap saya dan seorang teman yang lain membicarakan K-drama. “Ya sudah, bagaimana kalau kita ke Jepang?” ajaknya. Kemudian lampu ingatan menyala dalam kepala. Benar, sesungguhnya Jepang lah mimpi saya sejak masih sekolah dasar dulu, sebelum gelombang Korea datang menyapunya. Tapi rupanya ia tak hilang, hanya bersembunyi di sudut agar tak tersapu pergi. Sepertinya ia memilih bersembunyi, karena susah sekali menemukan teman yang bersedia menemani ke sana, kebanyakan hanya berkata mau tapi lalu menciut ketika saya sodorkan harga tiket (padahal promo, loh).

Singkat cerita, akhirnya kami pergi ke Jepang. Berduet dengan teman saya itu, karena seorang lagi tidak bisa. Malas direpotkan oleh urusan meals, bagasi, dan transit sana sini, kami pun memilih Garuda Indonesia yang menawarkan penerbangan langsung.

Kami tiba pagi hari di Bandara Haneda yang luas dan super bersih, lalu menuju hotel kami; Edoya Hoteru, yang ternyata ada di atas bukit. Apa boleh buat, sudah terlanjur memesan, pun terlanjur cinta dengan konsepnya yang menyerupai Ryokan (penginapan tradisional Jepang). Menuju Edoya dengan membawa koper butuh perjuangan, karena meski jalannya nyaman dan lurus-lurus saja, tetap saja judulnya menaiki bukit. Tapi, perjuangan itu terbayar ketika kami tiba di hotel dan merasa puas.

12246728_10153431517109263_465197833646403303_n
Living room dalam kamar kami di Edoya.

Di hari pertama ketika waktu sudah melewati jam makan siang, akhirnya – sesuai itinerary yang telah disusun – kami memutuskan jalan-jalan di pusat keramaian Tokyo saja. Maka, kami pergi ke Shinjuku dan sempat tersesat di stasiunnya yang sangat besar itu. Juga Harajuku yang akhirnya malah mendamparkan diri kemudian kalap di Daisho empat lantai. Siapa yang tidak kalap menemukan barang-barang lucu dengan harga hanya 10.000an? Dan tentunya menyambangi patung Hachiko di pintu keluar stasiun Shibuya. Karena begitu ramainya orang yang ingin berfoto bersama patung anjing paling setia di dunia itu, kami mengurungkan niat untuk melakukan hal yang sama. Sore itu Hachiko ditemani seekor kucing gendut yang asyik bersantai di kakinya. Orang-orang bergantian ingin mengelus si kucing sembari berfoto bersama Hachiko.  Saya? rasanya saya ingin membawa pulang kucing gendut itu, tapi sepertinya ada yang punya. Lagi pula, bagaimana cara membawanya pulang ke Indonesia? Hahahaha….

12250020_10153431518509263_7107379757593992398_n
Shibuya crossing yang langsung rusuh setiap lampu merah menyala ^^

Masih di Shibuya, kami pun masuk ke Starbucks tepat di depan Shibuya crossing yang melegenda. Starbucks lantai dua adalah tempat yang tepat untuk menikmati keriuhan penyeberangan Shibuya tersebut. Tujuan lain, tentunya adalah membeli tumbler bertuliskan Tokyo^^. Dari sana, kami masuk ke gang pertokoan di sebelahnya dan menemukan Genki sushi. Kalau di Jakarta, Genki Sushi ini bisa ditemui di mall-mall mewah, di Tokyo justru berada di antara toko-toko kecil ini. Kami masuk ke dalamnya dan bersorak gembira ketika menemukan buta*-sushi! (*babi).

12279190_10153431518329263_4039673948072436337_n
Mimik cokelat sambil menonton keriuhan orang-orang yang sedang menyeberang di Shibuya (orang nyeberang aja kok ditonton? :p)

Selain tiga pusat keramaian itu, di hari lain kami menuju Ginza, tempat branded stores berdiam. Tujuan saya sebenarnya hanya ke Ito-ya, toko stationaries 12 lantai! Tapi akhirnya kami (saya lebih tepatnya) tergoda membeli make-up di salah satu gerai. Ketika kami tiba di Ginza dan menyusuri jalanan mencari Ito-ya, banyak petugas mengarahkan mobil-mobil untuk parkir. Ternyata hari itu adalah car free day di sepanjang jalanan Ginza. Orang-orang ramai memenuhi jalanan. Bahkan, beberapa kursi meja diletakkan di tengah jalan agar orang-orang dapat beristirahat. Tentunya di jalanan yang ramai itu, tetap bebas dari sampah berserakan.

12299161_10153437699064263_7108027340871394951_n
Jalanan Ginza yang sedang bebas mobil dan tetap bersih.

Kami pun juga sempatkan diri berwisata ke Gunung Fuji dan Kamakura. Akan saya ceritakan lain hari.

Jika ada satu yang sayangkan dalam perjalanan ini adalah waktu. Yup, kami kekurangan waktu. Akibat tidak bisa cuti terlalu lama, kami pun tidak sempat menuju Kyoto dan Osaka. Bahkan, sesungguhnya, waktu untuk mengeksplore Tokyo kami rasa kurang. Mungkin suatu hari nanti, saya harus berlibur selama sebulan di Jepang. Siapa yang mau menemani? 😀

Advertisements

Hey you, thanks for reading. Let's talk now :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s