Pada Sabtu Sore


Kemarin sore saya berbincang dengan dua orang teman dalam perjalanan kami menuju PIM. Seorang teman yang adalah guru TK bercerita tentang kegiatannya di sekolah jumat kemarin; sebuah pelatihan/seminar dari Rumah Faye. Apa itu Rumah Faye? Ternyata adalah rumah persinggahan bagi para korban sex trafficking. Tampaknya kasus JIS yang juga memunculkan kasus-kasus serupa ke permukaan telah menjadi trauma besar bagi bangsa ini, khususnya bagi para orang tua yang memiliki anak yang masih bersekolah di bangku TK atau SD. Tidak terkecuali di sekolah tempat teman saya bekerja ini. Mungkin itu sebabnya sekolah tersebut mengundang Rumah Faye untuk berbagi kisah mereka.

Perbincangan kami tidak meruncing dengan perdebatan, melainkan membuat kami menganga menyadari bahwa ternyata tidak sedikit kasus sex trafficking yang terjadi di dekat kami. Bahwa ternyata banyak sekali anak perempuan yang belum lagi remaja telah menjajakan dirinya di lampu merah yang cukup sering kami lewati. Tentunya mereka tidak bekerja sendiri, melainkan di bawah pengawasan ‘kelompok’ yang menaungi mereka.

Tidak hanya seks trafficking yang melibatkan ‘kelompok’ besar yang entah bagaimana menghentikannya, kasus eksplotasi seksual pada anak juga bisa terjadi pada lingkup yang lebih kecil, yaitu dalam keluarga sendiri. Teman saya itu lagi-lagi bercerita tentang ‘kegilaan’ seseorang pada keponakannya. Karena, menurutnya lagi, berdasarkan statistik yang ada 60% kekerasan seksual pada anak dilakukan oleh orang dalam lingkungan terdekat mereka.

Menyedihkan.

Seorang teman berkata nggak ngaruh tempat-tempat persinggahan semacam ini jika anaknya sendiri “menolak diselamatkan”. Mungkin ada benarnya, tapi saya lebih suka berpikir positif bahwa ‘pemberontakan untuk menolak diselamatkan’ yang muncul dalam diri mereka adalah salah satu bentuk trauma yang timbul. Mungkin mereka butuh ditemani, butuh konseling, butuh orang-orang yang peduli di dekatnya, butuh dikuatkan hatinya. Pastinya, menurut saya, jangan membiarkan mereka ‘menyelesaikan’ masalahnya seorang diri.

Saya tidak punya tujuan khusus menulis ini. Hanya untuk mengingatkan pada diri sendiri agar lebih peduli lagi pada sesama, agar lebih banyak lagi mengucap syukur daripada mengucap keluh. Memang banyak orang-orang tidak bermoral dan tidak berhati yang melakukan kekerasan seksual pada anak, namun juga tidak sedikit orang-orang yang peduli dan ingin menghentikannya. Rumah Faye hanyalah salah satu dari sekian banyak organisasi yang bergerak dalam hal yang sama. Kita pun bisa membantu. Tidak ada yang tahu seberapa besar kekuatan jika seluruh orang dan kelompok yang peduli, bekerja sama untuk menangani hal ini.

Selamat hari minggu! 🙂

Advertisements

One thought on “Pada Sabtu Sore

Hey you, thanks for reading. Let's talk now :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s