Bunga Itu

Seharusnya, tanah itu tidak lagi gembur. Aku bahkan sudah mencabut bunga yang selangkah lagi kehilangan segarnya, hingga ke akarnya. Kukira begitu. Kukira, aku mencabut hingga ke akarnya. Ternyata, salah.

Pun aku salah mengira bahwa tanah itu tak lagi gembur. Masih gembur. Ia menyerap air dan menumbuhkan akar yang tersisa. Menjelma kembali menjadi bunga yang semakin lama entah kenapa semakin besar.

Banyak malam kuhabiskan dengan satu permintaan yang kukirimkan kepada langit; Jika memang bukan, sudahlah, matikan saja bunga itu. Ia tidak berguna. Untuk apa ia hidup jika kelopak-kelopaknya menghitam karena tak tersentuh. Tapi jika memang iya, kenapa kelopak-kelopaknya kau biarkan menghitam. Bunga itu lelah menunggu.

Kuulangi lagi pertanyaanku; untuk apa ia hidup jika kau biarkan kelopak-kelopaknya semakin menghitam?

Advertisements

2 thoughts on “Bunga Itu

Hey you, thanks for reading. Let's talk now :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s