Gelembung Sabun

Meskipun aku masih mengingatmu, aku sudah berhasil melupakanmu. Aku sudah melupakan ide-ide bahwa suatu hari kita akan menyusun rencana-rencana bersama. Lalu aku menemukan mereka yang ingin bersamaku, walau aku tak menginginkan hal yang sama. Mungkin kamu mengerti perasaanku. Dan sekarang aku pun mengerti apa yang kamu rasakan.

Bahwa cinta adalah hal yang tak bisa dipaksakan, kita semua tahu. Pada saat itulah pertemanan menyelip masuk dan menetap ketika hubungan antara dua orang tidak bisa disatukan dengan benang merah yang mengikat kelingking-kelingking mereka. Itu yang terjadi padaku dan mereka. Sama halnya yang terjadi pada kita berdua.

Tapi ‘kedatanganmu’ beberapa minggu lalu memunculkan rindu seperti gelembung-gelembung sabun yang beterbangan riang namun hanya bisa pecah di udara. Pikiranku kembali mencari-cari, jejak-jejakmu kembali kutelusuri. Sadar aku hanya akan berputar di tempat yang sama, menguburmu kembali adalah hal pertama yang kucoba.

Sekali lagi, kamu kembali ‘datang’ semalam. Seakan semesta enggan mengijinkan hal melupakanmu. Maka rindu itu bukan lagi gelembung-gelembung sabun yang pecah di udara, melainkan menjelma batu-batu yang mengendap di sebuah sudut dan perlahan merusaknya.

Advertisements

2 thoughts on “Gelembung Sabun

Hey you, thanks for reading. Let's talk now :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s