It isn’t easy, but you have to choose

[text in bahasa]


Belakangan saya sedang berusaha menyelesaikan bacaan untuk bookstalkers bulan ini, yaitu Garis Perempuan karya Sanie B. Kuncoro. Buku tersebut menceritakan kehidupan empat sahabat; Ranting, Gendhing, Tawangsri, dan Zhang Mey. Saya bukan ingin menceritakan review di sini, karena belum tuntas saya baca :).

Saya ingin menceritakan Ranting. Gadis ini mengalami dilema dalam hidupnya; ibunya sakit dan harus dioperasi. Seseorang ingin membantunya, tapi dengan balasan Ranting harus menjadi istri ketiganya. Ranting menolak. Tapi lalu satu kejadian mengharuskan sang ibu dioperasi secepatnya. Tanpa pikir panjang ia menandatangani perjanjian bahwa ia akan melunasi seluruh biayanya. Setelah sang ibu sembuh namun tak bisa keluar dari rumah sakit karena biaya belum terlunasi seluruhnya, Ranting mendatangi seseorang yang tempo hari menginginkan ia menjadi istri ketiganya. Ia telah memilih. Demi sang ibu.

Dengan keterpaksaan, Ranting menjalani hidup sebagai istri pria itu. Keterpaksaan yang ia pilih sendiri. Pilihan yang kemudian ia curangi sendiri. Setiap melakukan hubungan suami istri, Ranting menganggap bahwa ia telah diperkosa. Ia menghargai dirinya sendiri dengan nominal rupiah, dan menghitung berapa kali perkosa itu terjadi hingga mencapai nominal yang sama sejumlah harga yang diberikan untuk menebus sang ibu dari rumah sakit.

Ranting menganggap dirinya korban. Padahal pria tersebut tidak memaksa Ranting menjadiΒ  istrinya. Ia memberikan Ranting sebuah pilihan. Saya tidak membahas ini dari sisi kemanusiaan ya :). Saya memang tidak setuju kita memanfaatkan seseorang yang lemah demi keinginan kita, seperti yang dilakukan pria itu pada Ranting. Saya hanya ingin membahas tentang sebuah pilihan.

Menurut beberapa orang, hidup adalah sebuah pilihan. Yup, saya setuju! Kita memang selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan selama kita hidup. Entah itu hanya dua pilihan antara ‘ya’ atau ‘tidak’, atau tiga hingga empat pilihan. Intinya kita yang menentukan ke mana arah tujuah hidup kita sendiri.

Contoh gampangnya, saat kamu harus memilih antara dua orang yang menyukaimu, dan juga kamu sukai (Itu sebabnya kamu bingung harus memilih yang mana.) Kalau memilih si A, kamu akan terpuaskan secara materi, tapi mungkin dia orangnya cuek, tidak romantis, selalu lupa tanggal-tanggal penting seperti hari ulang tahun, hari jadian, dsb, atau dia cepat emosi. Kalau memilih si B, kamu akan selalu diperhatikan. Dia orang paling care yang pernah ada^^, tapi kamu tidak akan terpuaskan secara materi, karena dia sendiri harus membanting tulang demi menghidupi orang tua dan adik-adiknya. Tapi, toh, kamu harus memilih, kan? Apa pun, siapa pun yang kamu pilih, harus kamu jalani satu paket dengan resiko yang akan kamu hadapi nanti.

Nah, Ranting memilih. Tapi ia enggan menerima resiko, sehingga ia memilih memposisikan dirinya sebagai korban. Ia menganggap hubungan dengan suaminya adalah suatu bentuk perkosaan, tanpa keingintahuan untuk mengetahui bahwa sebenarnya sang suami sangat menyayangi dirinya. Dalam pilihannya tersebut, Ranting memilih untuk menyakiti hati orang lain agar hatinya sendiri terselamatkan.

Saya nggak bilang menjalani pilihan dan resiko-resikonya itu hal mudah. Itu sebabnya ketika saya harus memilih, saya akan bertanya terlebih dahulu pada Tuhan. Cuma Tuhan yang tahu dan mengerti apa yang terbaik bagi diri kita, kan? Karena kita sendiri terkadang tidak mengenal diri sendiri dengan baik. Kalau bertanya pada-Nya, Dia akan memberitahu pilihan mana yang terbaik untuk kita jalani; yang terbaik menurut-Nya, lho, bukan menurut kita πŸ™‚

So, instead of mengeluh, akan lebih baik jika kita memberikan yang terbaik bagi pilihan yang telah kita tentukan sendiri. Hingga saat ini saya pun masih belajar untuk terus melakukannya. Sudah saya bilang, kan, kalau ini bukan hal yang mudah? πŸ˜‰

Advertisements

Hey you, thanks for reading. Let's talk now :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s