Count Your Blessings

Saya kerap diajarkan untuk menghitung berkat Tuhan. Tapi pada prakteknya justru keluhan yang sering keluar. Well, it’s easy to say memang.

Dan pernah suatu hari saya luar biasa kesal ketika satu sabtu saya harus menghadiri pembukaan pameran tunggal seorang perupa, di mana hal tersebut tidak ada hubungannya dengan pekerjaan saya sebagai editor/ desainer buku anak. Terlebih sabtu sore itu saya sudah terlebih dahulu memiliki janji pertemuan yang sudah dirancang sejak sebulan lalu. Yang membuat saya kesal berlipat ganda adalah pemberitahuan yang sangat mendadak.  Tapi, toh, saya tetap pergi. Setibanya di sana ternyata kesal saya menghilang, karena saya menikmati karya-karya perupa tersebut. I love them! Hal itu membuat saya sadar dan (sedikit)menyesal kenapa saya harus emosi saat diminta datang ke acara tersebut. Padahal saya pernah menuliskan kata ini:

Jangan merasa terpaksa saat kamu memang terpaksa pergi ke suatu tempat. Karena tidak ada yang tahu apa yang akan kamu temukan di tempat tersebut. Just stay positive and you’ll find something that makes you smile at those place.

Oh well, menjilat ludah sendiri *malu*

Lalu satu hari lain, saya membaca twit seorang teman yang mengatakan tuliskan semua kegembiraan sekecil apapun (bahkan jika “hanya” menemukan sekeping uang seratus perak) setiap harinya. Setelah seminggu, lihat dan baca kembali. Dan saya mencoba melakukannya. Yes, it works! Saya menyadari bahwa berkat Tuhan hadir dalam segala bentuk. Dan itu membuat saya tersenyum.

Dalam hari-hari biasa tersebut saya mendapat kabar menggembirakan yang artinya saya semakin mendekati puncak dari salah satu gunung mimpi saya, lalu saya dan teman-teman kantor akhirnya dapat menikmati bebek paling enak sedunia sebagai makan siang (setelah ‘sekian lama’), menemukan bahwa koin-koin yang sengaja saya timbun untuk coin a chance sudah semakin meninggi, dapat menikmati martabak dua hari berturut-turut, bisa bermain dengan keponakan sehari penuh, mendapatkan komik-komik baru untuk dinikmati, menemukan Rp 20.000 dalam kantong celana jeans, menemukan dan merencanakan ide-ide dengan sahabat, menikmati pancake, dan hal-hal lainnya, hingga yang paling melegakan adalah ketika akhirnya (ternyata) saya bisa melepaskan perasaan saya terhadap orang itu.

Jadi kalau menurutmu Tuhan tidak juga memberimu berkat padahal sudah kamu nanti entah seberapa lamanya, kamu salah! Memang wajar jika merasa emosi di awal. Namanya juga manusia^^. Tapi ada saat di mana kamu harus menjernihkan hati dan pikiranmu, seperti yang saya lakukan. Pada saat itu baru kamu bisa melihat bentuk-bentuk yang Tuhan hadirkan sebagai berkat untukmu.

So, mari kita menghitung berkat!

________

*gambar milik Getty Images
Advertisements

2 thoughts on “Count Your Blessings

  1. Mariiiiiiiiiiiiii….
    Belajar bersyukur untuk apapun yang kita miliki dan apapun yang dipercayakan ke kita ya bu… ^^

    So uda ditanyaken dan dapat jawabannya ya?

  2. Diniii, betul, stay positive ajah :D.
    Btw harusnya kan hari ini kita bertiga ke bandung kan yaaaa? Jadi ngga jadi deh deh deh T_T. Diganti kapan ya enaknya?
    Soal itu, gw putuskan untuk nggak bilang2 apa2. Kasihan, ntar kayak petir di siang bolong nan terik buat dia :p

Hey you, thanks for reading. Let's talk now :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s