Apa Kabar, Hujan?

Apa kabar, Hujan?

Rasanya kurang tepat kalau menanyakan kabarmu mengingat beberapa kali kita saling menyapa singkat melalui jendela itu. Jendela yang kini resmi menjadi pengikat kita. Tanpa jendela itu, kita hanyalah dua orang yang saling tidak mengenal.

Jadi apa kabar, Hujan? Lihat, kulakukan lagi. Aku memang tidak bisa tidak menanyakan kabar saat menuliskan surat untuk seseorang.

Hujan… aku masih boleh memanggilmu Hujan? Padahal kukira kita tidak akan pernah saling menyapa kembali setelah aku pergi. setelah kamu pergi. Namun nyatanya desember membawamu kembali.

Hujan, desember mengingatkanku padamu. Apa karena tetesan hujan pagi ini? apa karena Natal dan kidung-kidungnya yang terus terdengar di televisi, di radio, di kantor, di rumah, bahkan di dering ponselku? Hmm… kurasa karena pelangi yang selama ini menghadirkan warna-warninya untuk mengenyahkanmu hanya bertahan sementara. Karena seperti itulah pelangi; keindahannya tidak menetap.

Jadi di sinilah kamu akhirnya terdampar; dalam dunia mimpiku setiap malam dan jeda-jeda kosong siang hari. Dan sebuah alasan baru; satu warna pelangi tertinggal di negeri sebrang.

Jadi, apa kabarmu, Hujan?

Advertisements

Hey you, thanks for reading. Let's talk now :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s