Inari, Misteri Dalam Sesosok Dewa

Tempo hari, waktu menyusun ulang koleksi komik yang super berantakan, tiba-tiba jadi saya jadi ingin membaca ulang manga Towa Kamo Shirenai karya Akaishi Michiyo. Dengan latar belakang mitologi Jepang, manga tersebut menceritakan tentang perjuangan seorang gadis bernama Kosmo Koganehara yang menjadi titisan putri Himiko ke 100 (Himiko sendiri adalah titisan dari Amaterasu sang dewi matahari, satu dari tiga dewa utama dalam dunia mitologi Jepang, dimana yang dua lagi adalah Tsukiyomi sang dewi bulan dan Susanoo sang dewa badai).

Dalam cerita tersebut ada seorang dewa yang kerap muncul di hadapan Kosmo dalam bentuk rubah. Dewa yang selalu dipanggil Kosmo dengan sebutan tuan Kitsune (kitsune berarti rubah dalam bahasa Jepang) tersebut adalah dewa Inari, dewa kesuburan dan kesuksesan. Kalau dilihat lagi, ternyata banyak sekali manga yang melibatkan tokoh Inari di dalamnya (mendadak tertarik dengan Inari^^)

Banyak pendapat mengenai dewa Inari, itu sebabnya Inari memiliki banyak nama seperti: Ukanomitama no Kami, O-Inari-San, Kodomo-no-Inari, Uka no Mitama no Kami, Uke-mochi, ataupun Dakiniten. Dalam agama Shinto, Inari adalah salah satu dewa yang memiliki misteri terbesar. Inari berasal dari Kyoto dan memiliki ikatan kuat dengan agama Budha

Tidak diketahui apakah Inari seorang laki-laki atau seorang perempuan karena ia tidak memiliki wujud nyata. Tapi, biasanya Inari digambarkan sebagai seorang laki-laki tua yang duduk di atas gundukan beras didampingi oleh dua ekor rubah disampingnya. Ada juga yang menggambarkan sebagai seorang perempuan rubah yang cantik serta ada yang menggambarkannya sebagai seorang perempuan berambut panjang yang menaiki seekor rubah putih atau seorang perempuan berambut panjang yang membawa dua ikat padi.

Dalam legenda agama Shinto, Inari dikenal sebagai Uka no Mitama no Kami (August Spirit of Food), anak dari salah satu dewa utama Jepang, Susanoo sang dewa badai. Sementara dalam agama Budha, ada dua versi mengenai Inari. Pertama, disebutkan bahwa Inari adalah Chinjugami, pelindung kuil. Yang kedua, Inari sebagai Dakiniten, dewa biara. Dakiniten berasal dari bahasa Sansakerta ‘dakini’ yang berarti ‘penjelajah alam semesta’ atau ‘dewi surga’. Hal ini berkaitan dengan legenda inkarnasi dimana Sang Budha muncul (ketika dia hidup sebagai bodhisattva dan melayani serta memberi pencerahan kepada masyarakat)

Dewa lain yang dikenal sebagai Inari adalah Uke-mochi, dewi padi dalam legenda Shinto. Berdasarkan mitos yang ada dalam Nihongoki, Uke-mochi memuntahkan nasi dan ikan lalu diberikan pada Tsukiyomi sang dewi bulan dalam sebuah jamuan. Tsukiyomi yang kecewa akan sikap Uke-mochi lalu membunuhnya. Kemudian tubuh Uke-mochi yang sudah tak bernyawa berubah menjadi makanan dan binatang yang berkaitan dengan pertanian.

Cerita lain mengatakan bahwa Inari menikahi Uke-mochi sang dewi padi. Setelah Tsukiyomi membunuh Uke-mochi, Inari mengambil kemampuan Uke-mochi lalu menjadi dewa padi.

Pada masa-masa awal dalam sejarah Jepang, Inari adalah dewa pelindung dan dewa pedang. Dikatakan, Munechika, seorang pembuat pedang terkenal mendapat titah untuk membuat sebuah pedang bagi Kaisar. Untuk itu ia mendatangi kuil Inari, berdoa meminta pertolongan. Ditengah-tengah doanya, Inari muncul lalu menolong Munechika membuat pedangnya menjadi sebuah pedang yang indah dan agung.

Dari sekian banyak sosok mengenai Inari, yang paling sering dikaitkan dengan Inari adalah rubah. Banyak yang salah paham mengerti kalau rubah adalah dewa yang sebenarnya. Sebenarnya, rubah hanyalah pelayan dari Inari. Binatang ini dipercaya untuk melindungi lahan pertanian dan menolong orang-orang. Namun dalam beberapa dongeng, rubah kadang digambarkan sebagai binatang licik dan penipu.

Selain rubah, mutiara dan bebatuan juga berkaitan erat dengan Inari. Batu permohonan biasa ditemukan pada patung rubah dalam kuil Inari, baik didalam mulut ataupun diletakan dibawah kaki. Hal ini melambangkan spritual, kekayaan, kesuburan dan kehidupan.

Di Jepang, kuil Inari tersebar disegala tempat. Satu dari tiga kuil Shinto dipersembahkan untuk memuja Inari. Kuil Inari yang paling terkenal adalah kuil Inari Fushimi yang dibangun sekitar 700 sesudah masehi, terletak di Kyoto bagian selatan. Sejak abad kedelapan, Inari adalah dewa yang dipuja di sini, dalam gunung yang bernama sama, Fushimi. Dalam satu legenda dikatakan bahwa Inari turun dari gunung ketika musim menanam pada musim semi dan akan kembali lagi ke gunung pada saat panen di musim gugur. Kuil ini dibangun berbeda dari kuil-kuil untuk dewa lain, karena memiliki hingga sepuluh ribu gerbang Torii merah atau gerbang keramat, memanjang hingga dua mil lebih dibelakang kuil.

Kuil Inari lain yang terkenal adalah kuil milik Budha, kuil Inari Toyokawa atau biasa disebut kuil Myogonji. Di sini, Inari Dakiniten adalah dewa utama yang disembah. Kuil ini memiliki jajaran bendera merah serta putih untuk menggantikan gerbang torii merah.

Untuk memuja dewa Inari, biasanya diadakan festival setiap tahun pada musim gugur. Di Kyushu, festival dimulai lima hari sebelum bulan purnama dan menghabiskan waktu seminggu penuh. Biasanya disertai dengan membawa hasil pertanian ke kuil Inari setiap pagi dan menerima O-mamori atau jimat pelindung. Festival seperti ini juga terkenal di daerah sekitar Nagasaki.

Pada zaman modern sekarang ini, wujud Inari itu sendiri mulai terlupakan dan digantikan oleh sosok pelayannya, sang rubah atau kitsune. Karena itu patung-patung Inari yang ada di dalam kuil berupa wujud kitsune.

Sebagai tokoh yang populer dalam cerita-cerita rakyat Jepang, kitsune sering dimunculkan dalam berbagai karya kontemporer seperti dalam anime dan manga, permainan komputer atau kartu, juga dalam kesusatraan dan novel.

Meskipun sosok kitsune terasa lebih dikenal, dewa Inari tetaplah dewa yang masih dipuja hingga sekarang. Seorang pendeta kuil dalam sebuah karya berjudul The Fox and The Jewel karya Karen A. Smyers mengatakan bahwa jika ada seratus pemuja, maka akan ada seratus cerita mengenai dewa Inari. Meski begitu, diantara begitu banyak cerita mengenai dirinya, akan ada dua persamaan didalamnya yaitu Inari selalu berkaitan dengan rubah dan pertanian, khususnya padi. Selebihnya terserah pada masing-masing individual tentang apa yang dipercayainya mengenai dewa Inari.

Advertisements

One thought on “Inari, Misteri Dalam Sesosok Dewa

Hey you, thanks for reading. Let's talk now :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s