Sore dan Sebuah Amplop

Pada sore itu kamu berada di ujung koridor, dengan tangan memegang sesuatu dan mata yang menatap beberapa rekanmu berebut mem perjuangkan sebuah bola berwarna jingga di lapangan bawah.

Aku tidak pernah melihatmu berada di lantai ini sebelumnya. Apakah sesuatu yang berada dalam tanganmu itu yang membuatmu datang ke lantai ini? Apakah artinya aku harus mendekat dan menyapamu?

**

Nora, Adith-mu udah datang, tuh!”

Seruan itu kerap terdengar saat kamu tiba setiap paginya. Berasal dari teman-teman dekatku. Mereka yang tahu bahwa aku menyukaimu.

Kamu tidak tahu, kan, kalau aku menyukaimu? Tentu saja kamu tidak tahu. Bahkan aku menduga, kamu juga tidak tahu namaku. Aku Nora, juniormu yang baru saja masuk sekolah ini. Nora yang sejak awal jatuh cinta ketika melihatmu berdiri di depan kelas bersama teman OSIS-mu, menjelaskan perihal orientasi. Nora yang kamu selamatkan sewaktu senior lain memarahiku habis-habisan. Tapi, tentu kamu tidak tahu.

“Ayo, Ra! Nanti siang kelas dua ada acara di luar sekolah, ini satu-satunya kesempatan melihat dia hari ini!” Liana menarik tanganku keluar kelas. Liana sahabatku. Dia yang paling tahu seberapa besar perasaanku.

Kelasmu yang berada di lantai dua terlihat jelas dari depan kelasku. Tempat terbaik untuk melihatmu dengan jelas. Kamu tahu, hanya dengan melihatmu, baterai tenagaku akan terisi penuh hingga jam sekolah berakhir siang nanti.

Lihat, bahkan kamu tidak sadar ada beberapa anak perempuan berkumpul dengan kikikan tawa mereka sambil melihatmu berjalan masuk ke dalam kelas. Kalau kamu tidak menyadari mereka, bagaimana mungkin kamu akan menyadari keberadaanku yang berada di tengah-tengah mereka.

**

Liana selalu gemas melihatku. Ia tipe yang berani mengungkapkan pendapatnya secara blak-blakan. Kadang tanpa dipikir dulu. Kalau filter ucapan dalam kepalanya rusak, ia kerap membuat orang tersinggung. Tapi Liana orang baik. Itu sebabnya dia layak menjadi sahabatku.

“Bilang dong! Bagaimana dia bisa tahu kalau kamu nggak bilang? Sok malu-malu deh!”

Liana tidak pernah bosan mengatakan hal itu padaku. Sama sepertiku yang tidak pernah bosan untuk tidak menghiraukan ucapannya. Aku tipe menunggu. Aku memberikan sinyal-sinyalku, lalu aku menunggu. Terkadang aku ingin seperti Liana, tapi aku selalu tidak bisa. Liana tidak suka dengan sifatku ini, tapi ia tetap mendukungku.

Kamu ingat, terkadang ada buku yang jatuh ke hadapanmu dari lantai tiga? Atau seorang gadis yang kerap menubrukmu saat berpapasan? Dan pesan-pesan manis yang tertera di mading? Itu aku yang melakukannya, dengan bantuan Liana.

Sama seperti saat itu. Hari ulang tahunmu. Aku punya sebuah kartu ucapan untukmu, tersimpan rapi dalam amplop mungil berwarna hijau. Sejak pagi hingga jam istirahat yang akan dimulai sebentar lagi, aku sudah tiga kali berpapasan denganmu, tapi keberanianku selalu lenyap saat suara langkah kakimu yang mendekat beradu dengan detak jantungku yang meningkat.

Liana gemas dan merebut amplop itu, tepat saat bel tanda istirahat berdentang. Ia lari ke depan kelas dan berteriak memanggilmu.

“Adith!”

Dan kamu menoleh ke atas. Aku tahu, karena aku berjongkok menyembunyikan diriku di sebelah Liana dan mengintip.

“Nih!” seru Liana sambil melemparkan amplop itu ke bawah. Kamu, dengan sigap, meraih amplop yang nyaris menjauh karena angin, lalu berterima kasih tanpa suara pada Liana yang langsung mengacungkan ibu jarinya.

**

Dan sore itu, kamu berada beberapa meter di hadapanku. Di ujung koridor. Tanganmu menggenggam sesuatu, amplop berwarna hijau.

Kamu mengharapkanku untuk datang menyapamu. Kamu ingin memberikanku kesempatan untuk menunjukkan keberanianku. Aku tahu kamu tidak akan menyapaku terlebih dahulu, karena kamu tidak tahu siapa aku. Iya, kan?

Liana sedang tidak bersamaku. Kalau di sini, jelas ia akan memaksaku mendekatimu. Dan mungkin keberanianku akan muncul sedikit dengan dorongannya.

Satu jam kamu berada di tempat itu. Tiga kali teman-temanmu yang kebetulan lewat menyapa dan mengajakmu berbincang. Lima kali kamu mengubah posisi berdirimu. Dan tujuh kali kamu menghela napas.

Ya, aku menghitungnya seperti orang yang tidak punya pekerjaan lain.

Bukan. Seperti orang yang jatuh cinta. Dan memang aku sedang jatuh cinta.

Setelah satu jam berlalu, kamu akhirnya pergi. Tinggallah aku yang terus menyesali diriku yang pengecut ini.

**

Adith… kalau aku datang menyapamu, pasti keadaan akan berbeda, kan?

Advertisements

Hey you, thanks for reading. Let's talk now :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s