Yoshie-Yuriko [bag.2]

[pending draft- entah sampai kapan^^]

Bandara Internasional Soekarno-Hatta – Jakarta

Tanganku terlipat di dada. Dan wajahku, tanpa aku harus melihat pun aku tahu wajahku sudah ter-setting dengan tampilan jutek. Tentu saja setting itu langsung kuubah begitu berhadapan dengan papa. Aku tidak ingin papa mengira aku anak durhaka – tidak senang dengan kedatangan ibu sendiri. Kaki kananku menari-nari mengetuk lantai.

Hei…. kenapa anak itu menatapku takut-takut begitu? Sekarang dia memeluk lengan ibunya yang duduk di samping. Dan masih melirikku takut-takut.

Tanpa sadar aku menyunggingkan sudut bibir kiriku dengan sinis. Pasti anak itu mengira aku marah padanya gara-gara nggak kebagian tempat duduk.

Saat ini, seperti biasanya, bandara Soekarno-Hatta memang penuh orang. Di terminal kedatangan – tempatku berdiri sekarang – tidak terkecuali.

Sudut bibir kiriku masih tertarik ke atas. Dasar anak kecil! Kalau memang takut, kenapa dia nggak berdiri aja dan memberikan bangku itu padaku? Huh!

Kulirik papa yang sedang merokok di smooking booth berdinding transparan itu. Papa menghembuskan asap dari mulutnya sambil berkali-kali melihat jam di pergelangan tangannya.

Nggak sabar ya, pa? Cih!

Akhirnya semua terjawab sudah. Kenapa papa sering terbang ke Jepang dengan alasan pekerjaan, kenapa papa mulai menyebut nama mama setelah sekian tahun lamanya aku nggak pernah mendengarnya dari mulut papa. Dan kenapa mama muncul tiba-tiba di Jakarta, di depanku.

“Yuri-chan, kita akan berkumpul lagi,” ucap mama waktu itu.

Papa mematikan rokoknya dan menghampiriku. Sementara sudah terdengar pemberitahuan bahwa pesawat yang ditumpangi mama dan Yoshie sudah tiba di bandara.

Yoshie. Adikku. Yoshie yang kubenci.

Ya, aku benci dia! Itu sebabnya kenapa aku begitu kesal dengan kedatangan mereka. Aku akan dengan senang hati menyambut mama pulang, andaikan saja Yoshie tetap di Jepang sana, tidak perlu ikut kemari. Tapi itu nggak mungkin, kan?

Dan mulai saat ini, aku harus kembali berbagi dengannya. Dengan orang yang sudah merebut mama dariku.

Sepuluh tahun yang lalu, saat mama dan papa bercerai, Yoshie yang dibawa pergi oleh mama. Bukan aku. Bukan aku yang selama ini lebih dekat dengan mama. Bukan aku yang ingin sekali hidup bersama mama!

Memang sudah lama terjadi. Dan hidup hanya bersama papa pun menyenangkan, karena papa tidak membiarkanku dan larut dalam pekerjaannya sendiri. Hidupku selama ini menyenangkan. Tapi kebencianku pada Yoshie tak kunjung lenyap.

“Sudah sampai Yu,” sahut papa, tersenyum lebar.

“Hmm…” gumanku tak semangat. Aku benar-benar lupa mengubah setting mukaku di depan papa.

“Kenapa Yu, mukamu kok masam gitu?”

Dengan cepat aku menggeleng, “nggak kok, Yuri cuma deg degan nih.” jawabku beralasan.

Papa langsung memberikan senyum maklumnya, “udah lama nggak ketemu Yoshie sih, ya?”

“Iya, lama banget.” jawabku, datar.

Nggak ketemu lagi juga nggak pa pa kok!

Papa bergabung dengan orang-orang yang sudah bergerombol di depan pintu, melongokan kepalanya. Aku hanya mengekor dibelakang.

“Itu mereka, Yu,” sahut papa, tangannya melambai-lambai pada dua orang yang – seharusnya – kukenal baik.

Mama balas melambaikan tangannya dan Yoshie hanya tersenyum sambil sibuk mendorong troli yang berisi koper-koper besar.

Hun!” pekik mama memanggil papa. Aku sampai malu gara-gara panggilan mama itu membuat beberapa orang menoleh.

Tsk! Yang baru rujuk, mesra banget!

“Yuri-chan!” seru mama memanggilku dan langsung memeluk tanpa peringatan.

Setelah puas melepaskan rindunya padaku, mama langsung beralih memeluk papa yang juga telah puas melepaskan rindunya pada Yoshie.

“Bagaimana penerbangannya tadi?” tanya papa, mesra.

Tsk!

“Nyaman! Kamu ngasih kita first class, sih.” balas mama, tak kalah mesra.

Tsk!

Dan pandanganku beralih pada Yoshie. Kami saling berhadapan. Saling bertatapan. Rasanya aku seperti sedang bercermin saja. Potongan rambut kami sama – ikal berombak dengan panjang hanya sampai dibawah telinga. Aku dan Yoshie sama-sama memakai baju warna putih, walau Yoshie menutupinya dengan jaket. Sementara Yoshie menggendong ranselnya yang berwarna biru, tote bag yang kubawa juga berwarna biru. Dan boneka kelinci kumal yang ada di tangannya itu, aku benar-benar tak menyangka Yoshie juga masih menyimpannya.

Mama memberikan dua buah boneka kelinci yang sama pada kami berdua sebagai hadiah ulang tahun, setahun sebelum perceraiannya. Dan aku – juga Yoshie, ternyata – masih menyimpannya hingga sekarang.

Kami sudah sepuluh tahun tak pernah bertemu, juga tak pernah berkomunikasi. Dan aku juga benci padanya. Tapi kenapa semua yang ada pada diri kami begitu serupa?

Yoshie menatapku. Ia tampak canggung. Dan kurasa, aku pun juga tampak canggung baginya. Memangnya mau bagaimana lagi, kami kan sudah sepuluh tahun tidak pernah berhubungan. Dan aku tidak tahu dengan Yoshie, tapi aku benci dia. Dan aku juga tak mengharapkan kedatangannya. Aku merasa dia akan mengacaukan kehidupan nyamanku selama ini.

“Kalian ini kenapa, malah lihat-lihatan?” mama bersahut heran melihat kami.

Yoshie langsung membentuk senyuman canggung di bibirnya.

“Yuri…” sahutnya, masih dengan senyum canggungnya.

Aku membuang napas. Maksudku ingin melengos sebal, tapi apa daya.

“Yoshie….” balasku akhirnya, datar tanpa intonasi.

bersambung…. nggak tahu kapan^^

Advertisements

One thought on “Yoshie-Yuriko [bag.2]

  1. “Janji” by Raku~EnBulir waktu yang jatuhmerambat turuni harikumeski beranjak perginamun tak pernah tergantiTangkai ruang yang layuterdiam terbelenggu sayumeski terkikis syahdunamun tak jua menderuRanum keluh, selalu datang menghantuiIndah lara, luruskan titian liku nestapameski perih, jangan hentikan pijakmutawa ‘kan hapuskan kelam di peluhmuTeteskan biru langit pada hati yang sengithembuskan rona pelangi ke jiwa yang sepitaburkan teduh mentari ke setiap mimpipergi dan bawalah bintang kembali disinimohon kritik & sarannya:http://ninorakuen.multiply.com/music/item/1

Hey you, thanks for reading. Let's talk now :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s