Yoshie-Yuriko [bg.1]

[Pending draft – entah sampai kapan^^]
Bandara International Narita – Tokyo.

Dingin. Aku merapatkan jaketku. Tapi kakiku masih terasa dingin, aku hanya memakai sneakers dan kaos kaki tebal yang tertutup oleh celana jeans. Okaasan bilang, lebih baik aku tidak memakai boot tercintaku – yang baru saja dihadiahi oleh Seichi dua bulan lalu – karena begitu sampai di Indonesia nanti aku pasti bakal kepanasan.

Aku menitipkan boneka kelinciku yang sudah usang pada Okaasan, lalu membantu supir taksi menurunkan koper-koper dari dalam bagasi.

“Arigatoo..” ucap Okaasan mengucapkan terima kasih sambil sedikit membungkukan badannya pada supir taksi itu setelah membayarnya. Supir taksi itu melakukan hal yang sama.

“Ayo Yo-chan,” ajak tante Yumi yang ikut mengantar kami.

Aku mengikutinya masuk ke dalam ruang bandara. Ah, setidaknya di dalam lebih hangat. Kulirik Okaasan yang sedang mengobrol dengan tante Yumi sambil berdiri tak jauh di depanku. Aku sendiri sudah duduk di salah satu deretan bangku-bangku yang saling menyambung satu sama lain.

Hhhhh…..

Sekali lagi kulirik Okaasan. Kali ini dengan perasaan kesal. Dia sedang menepuk bahu tante Yumi yang matanya mulai berkaca-kaca.

Drrtt….drrttt…..

Kuraih ponsel yang sudah bergetar-getar di saku celana. Dari Sei.

— Shie….

Aku tersenyum. Dan jariku mulai menari-nari mengetik pesan balasan untuknya.

— Sei, aku masih di bandara

— Kapan berangkat?

— Sebentar lagi

“Yo-chan” Okaasan memanggilku. Hidungnya memerah. Pasti dia terbawa cengengnya tante Yumi.

— Sudah ya Sei, aku harus naik ke pesawat

Kututup percakapan jarak jauhku dengan Sei tanpa menunggu balasannya terlebih dahulu. Sekalian kumatikan ponselku – takut lupa kalau harus menunggu masuk pesawat dulu. Sebenarnya aku agak kecewa. Kenapa sepertinya Sei sama sekali tidak merasa kehilangan dengan kepindahanku?

Sudahlah…..

Kusandangkan ransel biru di bahu kananku dan menggendong Usa – boneka kelinci usangku – lalu aku menghampiri Okaasan dan tante Yumi.

Bruk!

Tante Yumi langsung memelukku tanpa peringatan.

Srott!

Hidungnya menyedot ingus yang hampir keluar.

Iih! Tante Yumi jorok!

“Tante, aku gak bisa napas nih,” seruku, bercanda.

“Gomen….” tante Yumi melepaskan pelukannya “Yo-chan sering-sering telpon tante ya?” pintanya.

Aku hanya mengangguk, tersenyum. Tante Yumi memang selalu mendramatisir segala sesuatu. Aku tahu dia sedih berpisah denganku dan Okaasan, tapi apa harus menangis sesengukan seperti itu?

Harusnya aku yang menangis. Aku nggak mau meninggalkan Jepang, meninggalkan Seichi. Tapi mau tak mau, aku memang harus mau. Karena kepindahan ini adalah jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaanku. Jawaban kenapa belakangan ini Okaasan sering menyebut nama Otoosan, padahal entah sudah berapa tahun Okaasan tak pernah menyinggungnya. Jawaban kenapa Okaasan jadi sering bertanya padaku sambil berandai-andai ‘Kalau kita tinggal di Indonesia lagi, bagaimana ya Yo-chan?’ dan jawaban kenapa sebulan yang lalu Otoosan muncul di apartmen kami.

“Kalau sering telpon kamu, aku bisa bangkrut!” jawab Okaasan atas permintaan tante Yumi padaku.

“Ih nee-chan pelit banget sih!” balasnya merajuk. Biar sudah menikah setengah tahun lalu, tante Yumi masih saja bersikap manja pada kakaknya – Okaasan. Aku saja yang anaknya….. juga manja sih. Tapi itu kan wajar, iya kan?

“Salamku buat Yuriko ya,” sambung tante Yumi lagi. Menyentakku atas sebuah kenyataan yang harus kuhadapi setiba di Indonesia nanti.

Yuriko. Kakakku. Sejak Okaasan dan Otoosan bercerai sepuluh tahun lalu, aku dan Yuri sama sekali tidak pernah bertemu karena saat itu Okaasan benar-benar memutuskan hubungan dengan keluarga Otoosan.

Bagaimana kalau nanti kami jadi merasa asing satu sama lain?

“Ayo Yo-chan, nanti kita ketinggalan pesawat” sahut Okaasan.

Dan tante Yumi bergantian memelukku dan Okaasan.

Kalau begitu, inilah saatnya. Aku akan meninggalkan Jepang. Entah sampai kapan.

Seichi, aku sudah kangen padamu.

Advertisements

Hey you, thanks for reading. Let's talk now :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s