Ketika Hujan Turun

Aku benci hujan.

Mendengar suara tetesan air langit yang jatuh ke bumi membuatku teringat akan kamu. Dan itu adalah sebuah ironi. Mungkin. Karena aku tahu, kamu sangat mencintai hujan. Karena aku tahu, hujan juga mengingatkan dirimu akan aku. Hanya saja karena alasan yang berbeda.

Sore itu kamu berdiri di depan rumahku. Walau tangan kananmu memegang payung yang terbuka, kamu membiarkan dirimu basah oleh hujan. Aku pasti tak akan bertanya, kalau saja kamu mengangkat wajahmu, menikmati tiap tetesan hujan dengan senyummu. Tapi tidak, kamu hanya diam. Tubuhmu basah kuyup. Payung dalam tanganmu itu benar-benar tidak ada gunanya.

“Ada apa, Rie?” kugenggam tanganmu, dan menarikmu untuk masuk ke dalam rumah.

Kamu masih juga tak bersuara. Akhirnya aku memilih membiarkanmu tenang. Memberimu handuk dan meninggalkanmu sendiri di ruang tamu, untuk membuatkan segelas coklat panas kesukaanmu. Biasanya, hujan dan coklat panas selalu membuatmu tersenyum. Dalam keadaan saat ini, aku tidak tahu. Semoga saja masih memberikan pengaruh yang sama.

“Minum ini, Rie.” Kusodorkan coklat panas itu padamu. Dan kamu mulai terisak. Gelas berisi coklat panas itu hanya kamu genggam dengan kedua tanganmu.

“Ada apa, Rie?” Aku tidak terbiasa melihatmu sedih. Karena kamu yang selama ini kukenal selalu memasang wajah ceria. Dalam keadaan apa pun.

Sudah sepuluh menit berlalu, tapi kamu masih saja diam. Hujan turun bertambah deras di luar sana. Kenapa kamu juga terus menurunkan hujan dari matamu, Rie, tanpa ku tahu apa sebabnya?

“Aku…”

Sepenggal kata pertamamu itu membuatku menghela napas lega. Hanya sesaat.

“Aku hamil, Yan…”

**

Aku suka hujan.

Mungkin.

Dulu aku suka hujan. Sekarang aku tidak tahu apakah aku masih menyukai hujan. Karena hujan mengingatkanku akan hari itu. Hari di mana pertama kalinya aku tidak menunjukkan senyumku pada hujan, pada kamu.

“Ada apa, Rie?” Kamu terus bertanya. Tapi begitu sulit bagiku untuk mengeluarkan kata-kata ini dari mulut. Justru tangis yang memilih keluar lebih dahulu.

“Ada apa, Rie?”

Entah sudah berapa kali kamu mengucapkan pertanyaan itu. Aku bahkan tak sanggup memandang matamu, Yan. Aku takut, kalau kukeluarkan kata-kata itu, kamu akan berhenti mencintaiku.

Dan aku tidak mau hal itu terjadi. Atau, haruskah?

Hujan terus turun. Semakin deras. Tetesan air langit itu seakan menyuruhku untuk terus menangis. Dan, tentu saja, memohon maafmu.

“Aku…”

Kuberanikan diriku menatap matamu, Yan. Mungkin saja ini untuk yang terakhir kalinya.

“Aku hamil, Yan…”

Untuk sesaat kurasakan kamu menahan napasmu. Namun langsung kamu ubah menjadi senyuman dan pelukan untukku.

“Kenapa kamu malah menangis? Aku tahu ini terburu-buru, tapi ini berita gem…”

“Bukan anakmu, Yan…”

Dan hilanglah senyuman serta pelukanmu.

**End**

Advertisements

Hey you, thanks for reading. Let's talk now :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s