Hutan di Balik Pintu

“Sedang mencoba genre baru…”

“Manusia…”

“Ada manusia!”

“Hah! Manusia!”

Suara-suara itu saling bersahutan. Tepat di depanku. Berasal dari makhluk-makhluk aneh yang wujudnya – seharusnya – hanya bisa ditemui dalam buku-buku dongeng. Wujud yang seharusnya tidak nyata.

Mungkin ini memang tidak nyata.

Aku sudah sebelas tahun. Bahkan sebentar lagi aku akan bersekolah di SMP. Sudah besar. Sepantasnya, kan, kalau aku menganggap pemandangan di depan mataku ini hanyalah mimpi belaka?

Tapi kenapa aku hanya terdiam? Napasku tertahan. Tangan kananku masih menggenggam kenop pintu yang baru saja kubuka. Kedua kakiku tak mau bergerak.

Seekor, atau mungkin sesuatu, terbang ke arahku. Bentuknya seperti naga yang ada dalam buku yang pernah kubaca, hanya saja dia berwarna biru, dan ukurannya cuma sebesar Coco – anjing chihuahua peliharaan temanku.

“Kenapa kamu bisa datang ke sini?” tanyanya dalam bahasa yang kumengerti. Jadi ini jelas hanya mimpi. Kalau tidak, kenapa aku dan penghuni negeri dongeng ini menggunakan bahasa yang sama?

“Datang… ke… sini?” kataku ragu. Kedua alisku mengernyit, menandakan kebingungan. Entah harus takut, gembira atau bagaimana. Aku benar-benar bingung!

“Iya, kenapa kamu bisa datang ke hutan ini?” tanya naga biru itu, lagi, dengan suara cempreng.

Hutan?

Benar, kenapa aku bisa sampai di hutan ini? Lebih tepatnya lagi, kenapa hutan ini bisa ada di belakang rumah? Bukankah seharusnya hanya ada bunga-bunga yang ditanam oleh tukang kebun, di belakang rumahku?

Naga biru mungil itu masih mengepak-ngepakkan sayapnya di depanku. Di belakangnya, tersebar warna hijau di segala penjuru. Pohon-pohon besar – sangat besar – tumbuh menjulang. Daun-daunnya lebat, beberapa sulur menjuntai dari dalamnya. Membuatku teringat film Tarzan yang videonya kutonton minggu lalu. Tanahnya pun tertutupi oleh rerumputan dan beberapa akar pohon yang mencuat dari dalam.

Aku masih tidak bergerak dari tadi. Tidak bisa, tepatnya. Sementara itu, seekor – sesuatu – lagi makhluk aneh datang mendekat. Kali ini bentuknya seperti kentang. Iya, seperti kentang. Hanya saja tiga kali lebih besar dari kentang yang biasa kumakan. Warnanya pun coklat. Kentang yang ini punya dua tangan dan dua kaki yang mungil. Matanya bulat besar. Dan saat dia berada tepat di depanku, dari punggungnya keluar sayap, seperti sayap capung, dan menyejajarkan dirinya dengan si naga biru.

“Manusia, apakah ada sesuatu hingga kamu datang ke hutan ini?’ tanya si kentang.

“Eh?’ Aku tidak mengerti maksud pertanyaannya.

“Reo, ngapain kamu di sana?! Cepat sarapan!” Suara Mama membuatku spontan menarik kenop pintu yang masih kupegang dari tadi. Pintu pun tertutup.

“Ayo, jangan bengong! Mama sudah terlambat ke kantor!” Mama berteriak lagi. Seperti biasa.

“Tapi Ma… di belakang sana ada hutan.”

Tapi Mama masih tidak menoleh. Dia hanya mendengus kesal.

“Hutan apalagi, sih? Kamu makin lama seperti papamu saja, makin aneh! Cepat sarapan!”

Aku menoleh sebentar ke belakang. Sebenarnya aku ingin membuka pintu itu lagi untuk membuktikan pada mama, tapi aku tidak mau diteriaki lagi, jadi lebih baik aku menuruti mama menuju meja makan.

**

“DIAM!”

Aku membuka mata. Suara teriakan itu yang membuatku terbangun. Jam sebelas malam, begitu yang tertera pada jam weker di samping tempat tidurku.

Aku berjingkat-jingkat menuruni tangga. Suara pertengkaran Mama dan Papa membuatku tidak bisa tidur kembali. Jadi kuputuskan pergi ke dapur untuk mengisi kerongkonganku yang mulai kering ini dengan air, sekaligus mengintip mereka berdua.

Aku sudah sampai pada anak tangga paling bawah. Tangga itu berada di lorong kecil yang menghubungkan ruang makan dan dapur. Mama dan Papa berada di ruang makan. Dan belum berhenti bertengkar.

Masih berjingkat, aku menuju dapur. Saat menuangkan air putih ke dalam gelas yang baru kuambil dari rak piring, mataku tertuju pada pintu itu. Pintu yang seharusnya menuju ke halaman belakang rumah. Tapi, pagi tadi, pintu itu membuatku masuk ke dalam hutan dongeng.

Dan aku penasaran. Mungkin mengherankan kenapa aku tampak tidak takut pada hal-hal yang tidak biasa, seperti hutan yang dipenuhi mahkluk-makhluk aneh itu. Aku hanya bingung. Dan penasaran, tentu saja.

Jadi, aku mendekat. Memutar kuncinya perlahan, agar tidak terdengar oleh Mama dan papa, lalu membuka pintu itu.

“Hei, kamu datang lagi!”

Naga biru itu lagi. Dia sedang terbang bersama naga lain yang berwarna kuning.

“Wah, ada manusia.” Seru naga kuning itu dengan nada gembira. Tampaknya ia sedang senang.

Sepertinya sedang ada pesta di hutan ini. Makhluk-makhluk anehnya bertambah banyak dari yang kulihat tadi pagi. Dan walau malam hari, hutan ini terang oleh kilau sinar dari ribuan kunang-kunang.

Ternyata di dunia dongeng, juga ada kunang-kunang yang…. APA?! Aku sampai membelalakkan mataku saat seekor kunang-kunang melintas di depan.

Itu bukan kunang-kunang! Setidaknya bukan seperti kunang-kunang biasa. Mereka berwujud seperti manusia. Tapi memiliki sayap seperti kunang-kunang. Sinarnya keluar dari seluruh tubuhnya. Dan yang paling mengejutkan adalah mata mereka yang hanya ada satu!

Aku ulangi, hanya ada satu!

“Mau bergabung dengan kita?” tanya si naga biru, sementara aku masih terkaget-kaget melihat wujud kunang-kunang itu.

“Bergabung?”

Naga biru itu mengangguk-angguk, diikuti dengan gerakan yang sama dari si naga kuning.

“Iya, kami sedang pesta.”

Pantas dari tadi suasana hutan ini tampak meriah.

“Bilbo, jangan ajak manusia sembarangan!” seru sebuah suara.

Pemilik suara itu mendekat. Dia manusia sepertiku. Ternyata ada juga manusia di hutan ini. Dia seorang anak laki-laki seusiaku. Ah, bukan, tampaknya dia sedikit lebih tua dariku.

“Kamu harus berpikir dua kali sebelum masuk ke hutan ini.” Sahut anak laki-laki itu padaku.

“Lho, kenapa memangnya?” sungut naga biru yang ternyata bernama Bilbo itu.

Anak laki-laki itu menoleh pada Bilbo. “Kamu mau kejadian Alisa terulang?” balasnya sedikit tajam.

Bilbo menundukkan kepalanya, “tidak.”

“Alisa? Siapa Alisa?” tanyaku.

Sekarang, anak laki-laki itu menoleh padaku. “Alisa itu anak perempuan yang masuk hutan ini terburu-buru.”

“Lalu apa yang terjadi?”

“Dia tersihir menjadi Kukka.” Bilbo yang menjawab.

“Kukka? Apa itu? Kenapa dia bisa tersihir? Siapa yang menyihir?”

“Pertanyaanmu banyak sekali.” celetuk si naga kuning. Aku hanya tersenyum masam membalasnya.

Anak laki-laki itu tersenyum, “Kukka itu sejenis bunga yang ada di hutan ini. Dan Alisa tersihir oleh sang hutan karena dia terus menangis teringat keluarganya.”

Aku menaikkan sudut alisku. “Sepertinya tempat ini menyeramkan. Apa salahnya teringat keluarga, apa dia tidak bisa pulang?”

“Karena itu tadi aku bilang, kamu harus berpikir dua kali sebelum masuk ke dalam hutan ini.” Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan penjelasannya lagi. “Hutan ini menyenangkan. Sangat menyenangkan, asal kamu tidak teringat terus pada dunia asalmu. Hutan tidak suka itu.”

“Sekali kamu masuk ke dalam hutan ini dan menutup pintu itu, kamu tidak akan bisa kembali lagi.” Jelas anak laki-laki itu lagi.

Aku memandangnya lekat-lekat. Dia pasti berasal dari dunia yang sama denganku.

Bilbo mendekatiku. Ia mengepak-ngepakkan sayapnya. “Tampaknya kamu ingin masuk ke hutan ini.”

Aku menoleh pada Bilbo, sekilas, lalu memandang anak laki-laki itu lagi. “Apa kamu tidak ingin kembali?”

Dia tertawa, “buat apa? Dulu aku selalu dipukuli oleh ibuku. Jadi, buat apa aku kembali?” sahutnya. Terdengar sinis.

“Reo! Mau kemana kamu, malam-malam?!” hardik Papa.

Aku menoleh. Terkejut. Papa sudah berdiri di depan lorong. Kemeja kerja yang dipakainya berantakan. Pasti Papa baru saja pulang sebelum ia dan Mama mulai bertengkar.

“Nggak kemana-mana, Pa.” Ucapku pelan.

“Lalu buat apa buka pintu! Sana, tidur!” Apa Papa dan Mama hanya bisa berteriak?

Hutan itu sudah tak ada. Hanya pendar lampu dari halaman belakang yang terlihat. Aku menutup pintu dan segera meninggalkan dapur sebelum papa membentak lagi.

“KITA CERAI!” Teriakan mama terdengar lagi. Bahkan aku belum sampai di depan kamarku.

“Kamu bawa Reo!” Suara mama lagi.

“Kenapa aku harus membawanya? Kamu kan ibunya!”

“Aku tidak mau! Kamu kan ayahnya, sudah seharusnya kamu menghidupi dia!”

Aku sudah terbiasa mendengar pertengkaran mereka. Bahkan kerap tidak pernah kuhiraukan. Tapi kali ini, pertengkaran mereka membuatku ingin menangis.

**

Mataku pasti bengkak, karena aku menangis semalaman.

“… dulu aku selalu dipukuli oleh ibuku. Jadi, buat apa aku kembali?”

Aku teringat ucapan anak laki-laki di hutan itu.

Dia benar.

Dengan bergegas, aku turun dari tempat tidur. Keluar dari kamar, menuruni tangga, dan menuju dapur. Kali ini aku sudah yakin. Seratus persen yakin!

Kupegang kenop pintu itu, lalu kubuka.

“Halo lagi!” seru Bilbo si naga biru. Dia selalu ada di tempat itu. Mungkin dia penjaga pintu penghubung antara dunia nyata dan hutan dongeng.

“Halo…” balasku.

“Sudah kuduga kamu akan kembali lagi. Apa kamu sudah yakin? Aku tidak mau disalahkan Tane, lho.” Ucap Bilbo kembali.

“Tane? Anak laki-laki yang semalam? Jangan khawatir, aku benar-benar yakin sekarang!” tegasku.

“Kalau begitu, masuklah. Dan tutup pintu itu.”

Maka aku menutup pintu itu.

“Reo! Cepat sarapan, Mama sudah terlambat!”

“Reo!”

“Reo! Kemana anak itu, sih!”

Advertisements

One thought on “Hutan di Balik Pintu

Hey you, thanks for reading. Let's talk now :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s