Sha dan Po

Jangan jadikan cinta kita sebuah kesalahan, Po. Untuk itu aku pergi. Untuk membiarkan rasa di antara kita akan terus terasa manis bila dikenang.

Mungkin kamu tidak mengerti kenapa kulakukan semua ini. Akan kujelaskan, aku tidak bisa menggenggammu saat orang-orang justru menderita karenanya. Saat itulah, Po, cinta yang seharusnya mewujud dalam kebahagiaan berganti menjadi sebuah kesalahan.

Jangan menjadikanku pendosa dengan menyuruhku meletakkan keegoisan di atas segalanya. Dan jangan membuatku mengenyam kata durhaka dengan menutup telinga atas segala mohon mereka.

Sampai jumpa satu hari nanti, Po. Saat kamu tak lagi menatapku penuh amarah, dan aku tak lagi menatapmu penuh rasa bersalah.

–Sha, Agustus 2006–

Aku marah padamu, Sha. Aku menagih setiap ucap janjimu yang lalu kamu langgar begitu saja. Apakah rasa di antara kita ini tak ada artinya untukmu, hingga ketika mereka menghadirkan dia, kamu melepasku begitu saja?

Jangan jadikan kamu seorang pendosa, katamu? Lalu kenapa kamu menjadikanku seorang pendendam, Sha? Karena, rasa dalam hati ini perlahan berubah bentuk menjadi seonggok dendam. Dendam untukmu.

Aku tidak mengerti caramu mencintai. Kukira aku mengerti, tapi ternyata tidak.

Sesuai dengan inginmu, Sha, kubiarkan kamu membentuk bahagia baru di samping dia. Tapi tak akan kubiarkan kamu menghapus rasa bersalahmu. Sampai kapan pun.

–Po, Agustus 2006–

Advertisements

2 thoughts on “Sha dan Po

Hey you, thanks for reading. Let's talk now :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s