Hanya sebuah ingin

Saya hanya ingin membenci kamu.
Tapi rasa itu selalu hilang seiring waktu.
Lalu muncul kembali, pun seiring waktu.

Kamu, kita sudah saling mengenal berapa tahun?
Tahun-tahun itu membuat saya mengenal dirimu dengan baik. Tidakkah dirimu juga begitu?
Hingga saya selalu tahu kapan kamu berbohong atau jujur. Kapan kamu tulus atau sekedar basa-basi

Sekarang, saya ingin sekali menemukan kejujuran dalam ucapmu. Tapi hati saya terus berkata bahwa kamu berbohong.
Apakah saya dan kamu sudah tak saling lagi mengenal?

Saya tahu kamu. Jarak dan pertemuan sangat penting untukmu.
Itukah sebabnya saya selalu menangkap keinginan menghindar dari kamu?

Kamu, andai saja saya mampu membenci kamu…
Maka benci itu akan sedalam sumur tempat sadako tercebur dan mati.
Setinggi air laut yang datang meluluhlantakkan daratan beberapa tahun yang lalu.
Setajam pisau menghunus jantung hingga tak mampu bernapas satu detik pun.
Seluas lautan yang merajai bumi ini.

……..

Ah, saya sadar…
Inilah sebab Tuhan membuat saya tak mampu membenci kamu.
Karena Ia takkan membiarkan saya berbuat dosa.

Advertisements

Hey you, thanks for reading. Let's talk now :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s