Tanggung Jawab Kepada Bumi

“Ditulis pada tanggal 29 Januari 2007 di rumah kedua

Hanya bila pohon terakhir telah tumbang ditebang
Hanya bila tetes air sungai terakhir telah teracuni
Hanya bila ikan terakhir telah ditangkap
Barulah kita sadar bahwa uang di tangan tidak dapat dimakan
~kata bijak suku indian~

Saya menemukan wise words ini dalam koran kompas yang sedang membahas lingkungan. Sepertinya cocok banget sama keadaan negeri kita akhir-akhir ini, ya nggak? Karena menurut saya kita sama sekali nggak sadar (atau sadar tapi menutup mata dan telinga?) kalau sebenarnya tangan yang seharusnya dipergunakan untuk memelihara ini malah semakin merusak alam secara perlahan.

Saat bumi akhirnya memberontak, mempertanyakan tanggung jawab kita, apa yang kita lakukan? Mencoba menyalahkan pemerintah, mengganggap mereka nggak becus mengatasi musibah yang terjadi beruntun belakangan ini?

Saya bukan seorang pencinta alam, saya bahkan nggak bisa kalau harus berkemah di alam terbuka (bingung ntar mandinya gimana? ;p). Tapi mencintai alam tidak harus selalu seperti itu kan? Nggak haruslah melakukan secara ekstrim, bagaimana cara menanami kembali hutan gundul? Bagaimana cara mengatasi polusi yang berlebihan? Bagaimana cara membuat hutan kota? Hal-hal seperti itu biar ahlinya saja yang memikirkan (walau nggak salah juga sih kalau kita ikut menyumbangkan ide dan tenaga).

Mulailah dengan kehidupan kita sehari-hari. Misalnya, tolong deh jangan buang sampah sembarangan!

Ha! Ini nih yang paling saya benci, orang yang buang sampah sembarangan! Apa susahnya berjalan beberapa langkah mencari tempat sampah? Apa susahnya menghentikan mobil sebentar untuk membuang sampah ditempatnya? Atau mungkin menyimpannya sementara sampai menemukan tempat sampah?

Kalau saya melihat orang yang buang sampah sembarangan, ingin rasanya saya tonjok terus saya tampar-tampar seratus kali sampai dia sadar kalau buang sampah sembarangan itu SALAH BESAR! (berlebihan ya? Darah saya selalu mendidih sih kalau melihat hal seperti itu…..)

Orang-orang terdekat saya sudah tahu kalau saya benci sekali dengan tindakan membuang sampah sembarangan. Saya bakal marah besar kalau mereka membuang sampah sembarangan, tapi apa gunanya kalau saya sedang tidak bersama mereka, mereka melakukan hal itu lagi?

“Halah Yu.. cuma bungkus permen ini” kata seorang teman waktu saya merepet melihat dia membuang sampah dijalanan komplek. Iya, cuma bungkus permen, tapi kalau seluruh warga berpikir sama seperti dia, gimana coba? Bungkus-bungkus permen yang menumpuk itu akan tertahan dalam got dan menyumbat saluran air. Lalu kalau nanti banjir, mau menyalahkan siapa?

Berpikirlah, bagaimana saat bumi menuntut pertanggung jawaban kita, manusia, atas kewajiban yang diberikan Tuhan untuk memeliharanya?

Advertisements

Hey you, thanks for reading. Let's talk now :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s