Sisters

“Saya duplikat dari rumah kedua, yang saya tulis pada tanggal 22 Juni 2006^^”

Kemarin itu, saya menonton vcd In Her Shoes di rumah. Film tersebut bercerita tentang dua saudara cewek yang sebenarnya sangat dekat, namun karena kekesalan si kakak pada ketidakseriusan adiknya muncullah masalah – masalah yang akhirnya membuat mereka bertengkar hebat.

Tadinya saya pikir film ini hanya cerita ringan yang dapat mengistirahatkan pikiran, sama seperti chicks flicks yang banyak beredar, tapi ternyata film ini dapat dibuat sebagai bahan renungan lho. Saya saja waktu nonton jadi banyak merenung (sampai harus nge-rewind beberapa kali gara-gara ngelamun, xP).

Menjalin hubungan dengan saudara sendiri itu bukan hal mudah, walau tidak sesulit mempertahankan hubungan dengan teman. Pertama kali lihat, saya langsung simpati pada Rose, si kakak (mungkin semua orang akan simpati pada Rose pertama kalinya ya? Atau hanya saya?). Sementara itu, sebal melihat Maggie, si adik, yang sepertinya cuma modal tampang dan body saja, tidak pernah punya pekerjaan tetap, hidup nomaden, menumpang di sana-sini. Dengan serta merta menghancurkan kehidupan Rose yang ia bangun dengan susah payah.

Tapi ikatan darah lebih kuat dari penyangga jalan layang di Jakarta (lha??) dan lebih dalam dari hujaman paku bumi (LHA????). Semuak, sebenci apapun Rose pada adiknya, dia tidak mampu mengenyahkan Maggie dari hidupnya, bukan karena dia tidak bisa, tapi karena dia tidak mau.

Mungkin kita pernah merasakan hal seperti itu pada diri saudara kita. Kesal, sebal, benci, pokoknya ‘apaan sih lo?!’. Tapi biar bagaimana pun, mereka adalah saudara. Darah yang mengalir dalam tubuh adalah satu, kita tidak akan mampu membuangnya dari hati kita. Berbeda dengan teman yang jika kita tidak dapat memaafkannya lagi, mungkin sosoknya sudah kita buang jauh-jauh dari hati, bahkan hanya sekedar bentuk hidungnya saja tak mau lagi kita biarkan ada di pikiran kita (siapa juga yang mau mikirin bentuk hidung?).

Ditengah-tengah cerita, saya pun jadi simpati pada Maggie. Karena, ternyata, bukan salahnya, dia memiliki body dan wajah yang membuat kaum lelaki tergiur; bukan maunya, dia tidak memiliki pekerjaan tetap, dan bukan keinginannya pula, dia hidup menumpang kesana kemari. Walaupun sifat manja dan seenaknya tetap terlihat menyebalkan, xP. Tapi itulah manusia, bukan, no body’s perfect. Memiliki sisi gelap dan sisi terang, sisi baik dan sisi buruk, hitam dan putih, seperti halnya pada diri Rose, diri Maggie dan diri kita sendiri. Yang harus kita lakukan adalah menerima apa adanya, terlebih lagi pada saudara sendiri, satu darah.

Buat yang punya adik atau kakak, film ini bagus loh. Memberikan hiburan sekaligus renungan yang berharga untuk kita (wah…saya termasuk donk ya… xP)

Advertisements

Hey you, thanks for reading. Let's talk now :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s