Bentuk Bahagia

“Kutulis ulang dari rumah kedua – 19 Juli 2006”

Aku memutuskan berbahagia untuknya. Walau dulu aku selalu kesal dan tidak pernah ingin mengakui rasa iriku. Selalu mengeluh kenapa hanya dirinya yang berada dalam sorotan lampu sementara aku merangkak tertatih dalam bayang malam.

Merasa bahagia adalah suatu keputusan yang tepat, kurasa. Aku akhirnya mengetahui hidup ini, seperti kata alm Nike Ardilla, tak ubahnya sebuah panggung sandiwara. Ada yang memainkan peran utama, bergelimang dalam cahaya lampu. Juga ada yang bermain sebagai peran pendukung, berlakon ditepi cahaya.

Dalam kehidupanku, setidaknya kehidupanku dalam panggung berjudul keluarga, aku mendapat sebagai peran pendukung. Dulu mungkin aku benci dan berusaha melakukan kudeta untuk merebut peran utama. Tapi untuk apa melakukan hal itu?

Bukan berarti peran utama tidak pernah mendapat kesulitan. Bukan berarti peran pedukung hanya bisa tertatih mencari terang.

Yang harus kulakukan hanyalah menciptakan panggungku sendiri. Panggung dimana akulah yang menjadi peran utama, karena memang milikku, bukan karena merebutnya. Panggung berjudul keluarga itu adalah panggung miliknya. Bukan milikku.

Hey! tahu tidak? Ikut merasakan bahagia orang lain, tanpa disadari rasa bahagia itu akan membungkus hati lalu memancarkan kebahagiaan dari dalam diri, membentuk sebuah senyum yang akan membuat orang-orang bahagia ketika melihatnya.

Bahagia dalam sebuah senyum memberikan kebahagiaan pada sebentuk hati.

Advertisements

Hey you, thanks for reading. Let's talk now :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s