Surat #19 Kamu!
Kamu! Iya, kamu yang duduk di deretan paling atas.
Kamu! Iya, kamu yang duduk di deretan paling atas.
Seperti apa rasanya tertolak? Bayangkan sebuah piring yang berisikan seporsi makan siang; nasi, sayuran, sepotong ayam, dan ada segenggam biji-biji jagung dan segenggam kacang polong.
Sejak awal saya terjatuh, saya seratus persen menyadari bahwa akhirnya adalah ini. Tapi, ya, saya menolaknya. Terus. Bahkan ketika entah dengan penuh kesadaran atau tidak, saya kerap menambal retakan itu [...]