Bara

Namanya Bara. Meski begitu rambutnya lebih hitam dari malam. Matanya selalu memandangku dengan teduh. Dan pandangannya itu selalu disertai dengan senyuman di bibirnya yang tipis. Yang paling kusukai adalah ketika kami duduk berdua saja di teras rumahku; larut dalam bacaan masing-masing. Sementara angin menggoyangkan daun-daun yang melekat pada pohon mangga depan rumah, aku merapatkan dan menekuk kedua kakiku yang mulai kedinginan. Tanpa melepaskan tatapan dari lembaran halaman di depannya, ia akan mengambil bantal besar yang semula menjadi sandarannya dan meletakkannya di atas pahaku. Lalu tanpa diminta, mbak Uni yang setia bekerja untuk keluargaku selama belasan tahun, muncul dari dalam rumah membawa dua gelas cokelat hangat. Bara meletakkan bukunya, mengucapkan terima kasih pada mbak Uni, dan mengambil kedua gelas tersebut. Ia memberikan satu untukku. Kami akan menyesapnya sambil menikmati rintik hujan yang mulai turun satu persatu.

Tidak seperti namanya, Bara selalu tenang dalam setiap gerak-geriknya walau emosinya sedang di titik didih tertinggi sekalipun. Dengan tenang ia akan mengusap lembut kepalaku. Dengan tenang ia akan mengecup dahiku. Dan dengan tenang ia akan memelukku hingga hangatnya tersebar. Kasih sayangnya tidak meledak-ledak, melainkan menyusup diam-diam dan memberikan hangat yang bertahan lama.

Bara lah yang menggenggam tanganku ketika Mama meninggal lima tahun lalu. Sementara orang lain sibuk memelukku dan mengharapkan agar aku tegar dan bersabar, Bara hanya diam dan menggenggam tanganku. Erat. Genggamannya meredakan kesedihanku.

Seminggu setelah kepergian Mama, Bara kembali muncul di pintu rumahku. Ia tidak mengajakku melakukan sesuatu atau pergi ke suatu tempat. Bara hanya duduk di kursi empuk di teras. Aku tidak mengerti apa yang Bara mau, jadi aku hanya mengikutinya duduk. Kami menikmati sore yang ketika itu cerah. Jalanan depan rumah mulai ramai oleh warga komplek yang juga ingin menkmati sore; anak-anak yang bermain sepeda, remaja-remaja yang sedang menuju lapangan basket, dan warga lain yang melintas menuju rumah mereka. Mbak Uni yang sedang menyiram bunga di halaman menghentikan kegiatannya dan menawari kami minuman. Lalu ia masuk dan kembali keluar membawa dua gelas minuman cokelat. Sejak itu, menikmati sore menjadi rutinitasku dan Bara setiap minggu.

Dan tanpa sadar hidupku bergantung pada senyuman Bara.

*

Malam ini Bara mengejutkanku dengan muncul di lobi kantorku. Sudah jam sembilan malam, dan aku baru saja menyelesaikan lembur. Permintaan atasan yang tidak ada habis-habisnya nyaris membuatku mengorbankan rutinitasku menikmati sore bersama Bara. Seperti hari ini. Jadi kemunculan Bara adalah kejutan kecil yang menyenangkan. Ia mengenakan pakaian yang kusuka; celana jins dan kemeja putih lengan panjang yang lengannya dilipat hingga siku, dan sneakers biru gelap. Rambutnya masih sedikit basah. Yang artinya ia berangkat dari apartmentnya. Hari ini pasti Bara pulang cepat dari kantor dan ke rumahku tapi tidak menemukanku di teras. Jadi ia kembali ke apartmentnya, mungkin berdiam sebentar di depan laptop yang selalu terbuka di atas meja kerjanya, lalu mandi, kemudian pergi menjemputku ke sini.

Tapi ada yang hilang. Aku tidak menemukan senyumnya. Ia masih memberikanku tatapan teduhnya yang menenangkan, tapi tidak senyumnya. Bara hanya menggandeng dan mengajakku naik ke mobilnya yang terparkir di depan.

Kamu mau makan? Aku lapar.

Aku mengernyitkan kening. Kalimatnya tidak beraturan. Ada sesuatu yang membuatnya gelisah. Aku tahu ia ingin menceritakannya padaku. Maka kuiyakan ajakannya. Kami berhenti di depan sebuah kedai mungil yang menyajikan makanan malam hari; nasi goreng, mie rebus atau goreng, sate, hingga martabak.

Makanan belum tersaji ketika akhirnya Bara mengucapkan kalimat yang ditahannya sejak tadi.

Aku akan pergi.

Dan aku meletakkan gelas berisi jeruk panas yang semula hendak kusesap.

Bulan depan. Ke Inggris. Tiga tahun. Aku ditugaskan di sana. Aku juga kaget. Ini mendadak sekali…

Kalimatnya terpatah-patah. Yang kudengar hanyalah ‘pergi’, ‘Inggris’, dan ‘tiga tahun’. Selama Bara menumpahkan kata-katanya, yang ada di pikiranku adalah bagaimana hidupku tanpa senyum Bara?

Aku akan kehilangannya. Aku sadar aku egois jika merajuk untuk menghalangi kepergiannya.

Tapi aku tidak peduli.

4 responses on “Bara

Hey you, thanks for reading. Let's talk now :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s