[Paket]

2009 November 24
by fortherose

Adrian,

Saya tahu kamu bingung dengan surat ini, tentunya sambil bertanya-tanya siapa gerangan Alisa-saya,pengirim surat ini. Bukan, ini bukan surat cinta yang mungkin sering kamu dapatkan, atau mungkin juga sebaliknya (saya tidak tahu, saya kan tidak mengenalmu).

Oke, mungkin ada baiknya saya jelaskan duduk permasalahannya sebelum kamu salah paham dan memutuskan membuang surat ini sebelum habis terbaca.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari kamis, tepatnya lagi ketika baru saja tiba di rumah sore hari, saya menemukan sebuah paket tergeletak di atas meja. Berukuran, kira-kira, sebesar lima tumpuk kotak tisu. Terbungkus kertas putih yang dilapisi lagi oleh plastik. Ibu saya bilang itu paket untuk saya. “Tapi sepertinya yang ngirim salah tulis nama, tuh, Lis.” Begitu ucap beliau, sambil meneruskan kegiatannya di dapur.

Adrian
Jl. Bulan II no.6

Itu yang tertulis di atas paket yang terbungkus kertas putih tersebut. Dilihat sekilas saja, saya tahu paket itu bukan salah nama, tapi salah alamat. Saya tidak mengerti kenapa Ibu saya tidak teliti dan menerima begitu saja paket tersebut dari kurirnya.

Mananya yang nyaris mirip antara Adrian dan Alisa? Huruf pertamanya? Saya mengerti kalau kamu ingin menertawakan kebodohan ibu saya. Terkadang beliau memang begitu ceroboh. Tapi setelah saya pikir lagi, beliau hanya membaca sekilas lalu alamat kita-kamu dan saya- yang memang nyaris sama.

Jl. Bulan III no.6

Serupa tapi tak sama, kan?

Anyway, karena hari hujan, saya membatalkan niat saya mengantarkan paket itu ke rumahmu. Tapi esoknya saya memutuskan meneleponmu.

Tunggu!

Sebelum kamu curiga, akan saya jelaskan bahwa saya mengetahui nomor teleponmu dari ibu. Dan kenapa ibu saya mengetahui nomor teleponmu? Itulah ‘kekuatan’ ibu-ibu tukang gosip di komplek perumahan ini. Kamu tidak perlu heran atau terkejut.

Jujur saja, hujan membuat saya malas beranjak keluar dari rumah. Jadi sebenarnya saya berniat meneleponmu agar kamu sendiri yang mengambil paket salah alamat itu.

Tapi tidak ada yang menyambut dering telepon saya. Hari itu saya menelepon tujuh kali!

Akhirnya sore hari, saat hujan sedikit mereda – hanya ada gerimis yang sebenarnya sanggup membuat sakit kepala, saya putuskan untuk membawa langsung paket itu ke rumahmu. Untungnya paketmu itu tidak nyasar terlalu jauh, hanya nyasar ke rumahku yang masih berada dalam satu komplek.

Tapi tebak!

Lima belas menit saya berada di depan rumahmu, tidak ada orang yang membukakan pintu! Ingin rasanya saya meninggalkan paket itu di depan pintumu saja, tapi tidak tega membayangkan kamu kecewa atau marah saat melihat paket itu rusak karena hujan atau dipipisi kucing liar yang kebetulan lewat.

Adrian,

Karena saya tidak sukses menelepon pun menghampirimu langsung, maka saya menulis surat ini. Mungkin kamu sibuk sehari penuh, atau apapun. Tapi kamu pasti akan mengecek kotak suratmu saat tiba di rumah, kan?

Kalau paket itu berisi makanan, saya takut akan membusuk saat tiba di tanganmu. Dan tentunya saya tidak ingin kamu menyalahkan saya atau ibu saya kalau paket ini rusak atau membusuk. Padahal kamu yang mengabaikannya (secara tidak langsung).

Jadi, setelah kamu membaca surat ini, saya harap kamu segera datang ke rumah saya (hanya berbeda satu jalan dari rumahmu) dan mengambil paketmu. Tidak perlu khawatir, akan ada yang membukakan pintu untukmu. Kamu tidak akan dibiarkan menunggu selama lima belas menit.

Saya tunggu.

Salam kenal,
Alisa

—————————-

gambar dari sini

No comments yet

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS