Meninggalkan Langit :: Randu
Ada anjing terlempar di muka Dayu. Setelah sebelumnya Dayu melempar babi pada muka Randu, kekasihnya. Ya, dua hewan yang memiliki nama bereputasi buruk itu keluar dari mulut mereka masing-masing, berbentuk makian dengan nada sengit berhiaskan tatapan yang tak kalah tajamnya dengan mata pisau tukang daging.
Ini adalah kali kedua – setelah setahun – mereka perang mulut sambil memainkan nama-nama penghuni dunia binatang yang pasti akan membuat Mama dan Papa Dayu berikut orangtua Randu menderita serangan jantung mendadak, atau stroke sekalian, kalau mendengarnya.
Tidak. Kalian salah, mereka berdua saling mencintai. Cinta Dayu pada Randu, sama besarnya dengan cinta Randu untuk gadis itu. Hanya saja, terkadang, mereka bisa menjadi sangat keras kepala. Biasanya keadaan berbanding terbalik. Begitu mesra hingga membuat iri orang-orang.
Seperti saat pertama mereka perang dengan meminjam nama anjing dan babi tanpa izin, setelah tersadar dari kekasaran mulut masing-masing, maka mereka akan saling meminta maaf.
“Dayu, maaf… aku tidak bermaksud dengan ucapanku…” ucap Randu penuh penyesalan.
“Nggak, Ran, aku yang minta maaf…” balas Dayu tak kalah menyesal.
Dan mereka akan berpelukan.
Berciuman.
Kemudian bercinta.
Semudah itu.
Dayu tersenyum, Pertengkaran mulut selanjutnya telah ia prediksi baru akan terjadi kira-kira satu tahun lagi.
**
Hari itu panas begitu terik. Langit sedang malas bersimpati pada kesedihan. Pada orang-orang. Pada Dayu. Area pemakaman penuh dengan orang-orang berbaju hitam, kecuali Dayu. Baju yang melekat di tubuhnya berwarna putih. Randu tidak menyukai warna hitam dan ia selalu mengatakan Dayu bertambah cantik sepuluh kali lipat kalau mengenakan baju berwarna putih. “Seperti malaikat yang diturunkan Tuhan hanya untukku,” ucap Randu selalu sambil lalu mengecup lembut kening Dayu.
Ya, pertengkaran yang telah ia prediksikan itu tidak akan terjadi lagi, karena Randu telah dijemput malaikat Tuhan yang sesungguhnya, kemarin, saat mobilnya dihajar truk dalam perjalanan pulang dari kantor.
Begitu tiba-tiba.
Sementara semua orang di sekitarnya menangis tersedu-sedu, Dayu hanya memandang tubuh Randu dengan tatapan kosong. Dan saat ini, seluruh orang di pemakaman memandang Dayu dengan heran. Entah karena dirinya memakai baju putih di antara orang-orang berbaju hitam ini atau karena ia sama sekali tidak meneteskan air mata. Mama merangkul dan membelai kepalanya, “jangan menahan diri, Yu.” ucapnya lembut.
Dayu tersenyum lemah. Aku tidak menahan diri, Ma. Aku pasti sudah menangis meraung-raung andaikan bisa.
“Dayu, kan, memang ngga bisa nangis, tante…” ucap Randu tertawa saat mereka berdua sedang menonton DVD Eight Below di rumah bersama Mama dan Hanni, adik Dayu. Mama menuduh Dayu tidak sensitif lantaran menurutnya nurani gadis itu tak tersentuh menonton perjuangan anjing-anjing itu untuk bertemu majikannya di tengah badai salju. Sementara mereka berdua sudah terisak, dan mata Randu bahkan sudah berkaca-kaca.
Percayalah, sungguh, film itu benar-benar membuatnya sedih. Tapi harus bagaimana lagi kalau memang tong persediaan air mata Dayu kosong tandas? Randu mengerti, dan dia mengacak pelan rambut kekasihnya. Dayu tahu pasti Randu ingin menariknya masuk ke dalam pelukan, tapi tak enak pada Mama.
“Dayu…”
“Randu…”
Mama menatap Dayu pedih. Rupanya bukan Randu yang memanggil, melainkan Mama yang sedang mengajaknya pergi meninggalkan tempat ini. Dayu tidak menyadari pemakaman ini sudah sepi, bahkan orang tua Randu baru saja berlalu dari tempat ini. Akhirnya, dengan sangat terpaksa, ia mengikuti ajakan Mama.
Panas semakin terik. Yang terlihat dengan mata Dayu yang menyipit hanyalah tampak belakang orang-orang yang berlalu dari pemakaman ini, tertutup oleh payung-payung berwarna gelap. Kalau ia menoleh ke belakang, maka hanya ada pemakaman yang berdiri bisu. Dan Randu ada dalam kebisuan itu. Tidak akan pernah bisa menyentuh dan disentuh lagi.
Randu, apa yang kamu inginkan untuk kulakukan, sekarang?
**bersambung…**
——————————–
gambar minjam di sini


