Pop Literature, anyone?

2009 October 27
by fortherose

Saya menyukai kegiatan membaca. Dan bergabung dalam komunitas yang berisikan orang-orang dengan minat yang sama adalah hal menyenangkan. Untuk itu saya berterimakasih atas keberadaan goodreads; sebuah situs yang memungkinkan kita menyusun buku-buku yang akan, sedang, dan sudah kita baca. Tentu saja kita dapat menulis dan membaca komentar-komentar tentang buku-buku tersebut. Goodreads bagaikan rak buku pribadi di dunia maya.

Saya sendiri senang menelusuri review-review yang ditulis para goodreaders (sebutan bagi pengguna situs goodreads) berikut balasan-balasan pro-kontra yang terkadang, jika review-nya memancing, bisa mencapai ratusan balasan. Menyenangkan.

Namun pernah satu ketika ada yang mengganggu saya pribadi. Beberapa tampak enggan memberitahu bahwa ia membaca pop literature macam chicklit atau teenlit. Beberapa ‘terpaksa’ memberitahu namun review-nya berisi pembelaan diri tentang kenapa akhirnya ia membacanya. Seperti halnya salah satu ‘balas-balasan’ review sebuah buku yang sempat saya baca ini (kalimat telah diedit tanpa menghilangkan maksudnya dan agar tidak menyinggung yang bersangkutan ;p)

A: Lho, sudah baca, ya? It’s chicklit, ya know….

B: Yup, bagus ternyata. Siapa bilang ini chicklit?

A: Akhirnya ngaku juga kalau suka chicklit

B: INI BUKAN CHICKLITTT!!!

Intinya mereka malu jika terlihat membaca pop literature. Issue ini memang sudah lama ada. Terlebih saat kegiatan sastra mulai mencuat menjadi trend. Saat kita lebih sering melihat orang-orang yang tengah duduk menunggu, entah itu di bandara, stasiun, rumah sakit, hingga coffee house, membaca sebuah buku. Sebenarnya itu perkembangan yang bagus, hanya saja jangan sampai kegiatan itu ‘terpaksa’ dilakukan agar tampak smart di mata orang lain.

Yang menjadi pertanyaan saya adalah, kenapa harus malu membaca pop literature? Apakah hanya karena isi buku tersebut ringan dan tidak perlu membuat berpikir, lalu akan membuat si pembaca tampak dangkal dan tidak smart? Duh, saya kok merasa kasihan pada orang yang berpikir seperti itu.

Terkadang saya ingin tertawa mengetahui ada orang yang memaksakan dirinya membaca sebuah buku dan sama sekali tidak mengerti apa isinya (dan ia tidak berusaha mengerti dengan bertanya pada orang lain apa maksud di dalamnya) demi bisa mengatakan dengan sombong pada yang lain bahwa ia telah selesai membacanya. Lalu kenapa saat ia puas sampai sempat menangis karena larut dalam ceritanya ketika ia membaca chicklit, justru tidak ingin mengaku?

Padahal tidak sedikit buku chicklit atau teenlit yang ‘berbobot’, seperti salah satu teenlit favorite saya; Looking for Alibrandi (1992). Novel karya Melina Marchetta ini telah meraih berbagai penghargaan. Telah diterbitkan terjemahan Indonesia oleh GPU (2004). Atau mungkin chicklit berjudul Bookends (2003) karya Jane Green yang membuat impian lama saya muncul kembali ke permukaan (walaupun saya belum selesai membacanya :p). Telah diterbitkan terjemahan Indonesia oleh GPU (2008).

Untungnya teman-teman saya di kantor penggemar buku-buku chicklit seperti halnya saya. Setelah beberapa saat berkutat dengan buku-buku ‘berat’ rasanya menyenangkan sekali membahas buku-buku pop literature bersama mereka, saling meminjamkan buku, hingga membayangkan sosok nyata dari tokoh-tokoh novel yang kami baca. Akhir-akhir ini kegiatan tersebut telah menjadi salah satu pengisi jam makan siang kami.

Mungkin chicklit/ teenlit memang buku bersifat ringan dan hanya bercerita seputar kehidupan sehari-hari, khususnya kehidupan cinta. Namun mereka tetap memberikan sebuah pembelajaran tentang kehidupan pada pembacanya.

Jadi, tidak perlu malu jika kecintaanmu pada mereka diketahui orang lain :D .

———————

*Gambar minjem dari sini

6 Responses leave one →
  1. 2009 November 1

    …halo, nyasar sehabis mampir dari blognya Arm… :)

    udah nyoba konsumsi beberapa ‘genre’ sih, mulai dari yang chicklit, misteri, thriller, pembunuhan, sekte, fiksi ilmiah, based on true story, mental disorder hingga yang mendayu-dayu, dan akhirnya cuman demen baca-baca versi tabloid/majalah olah raga… in the end, ternyata saya tak berbakat membaca :mrgreen:

    salam kenal ya ;)

  2. 2009 November 1
    fortherose permalink

    wahahaha… ternyata membaca perlu bakat juga to? ;p

    salam kenal juga :D

  3. 2009 November 12

    :D kayaknya memang budaya yang berkembang di sekeliling kita saat ini seperti itu, ya. kemarin ada anak smu dengan bangganya berkata: saya smu kelas 3, tapi tidak pernah baca teenlit. kupikir, kasihan amat… remaja tapi tidak membaca bacaan remaja. kenapa pula dia harus sok tua membaca dan brown?

    belakangan ini aku jadi sering baca chicklit, yu (dan beberapa teenlit). barangkali bosan menjadi orang sok pintar seperti anak smu di atas itu :p. belakangan ini juga aku membela genre yang satu ini di sebuah forum maya lantaran hampir semua orang yang ada di sana mendeklarasikan dirinya anti chicklit (dan teenlit).

    seharusnya pop literature dipandang semata-mata sebagai genre; dan kwalitas tidak ada hubungannya dengan genre. kwalitas ya hubungannya dengan si penulis. kalau kemudian sebagian besar buku pop di indonesia dinilai kurang berkwalitas,barangkali, itu karena penulis-penulisnya masih muda (yang tua-tua tentu saja lebih senang merambah genre selain pop). mau tidak mau, harus diakui bahwa kwalitas ada hubungannya dengan jam terbang. tapi, kalau saja kehadiran pop literature dianggap penting (sama pentingnya jika dibandingkan dengan genre lain), kupikir kwalitas genre yang satu ini akan meningkat.

    bicara tema, kadang aku juga suka gemas. memangnya kalau menulis drama percintaan tidak butuh kemampuan seperti kalau menulis drama berbau etnik? sama-sama pusing bikin plot, pusing mikirin karakterisasi, dst. buku-buku bertema sederhana juga tidak mungkin memenangkan sayembara, seolah-olah mereka tidak layak. orang-orang lupa bahwa buku-buku sastra klasik indonesia -yang konon wajib baca ketika sekolah- selalu bertema cinta.

    *halah, komenku jadi panjang*

  4. 2009 November 12
    fortherose permalink

    senang membaca opinimu wind, tapi aku jadi blank mau balas apaan…wahahaha xp.

    tapi baca kalimat terakhirmu itu, kenapa di kepalaku terlintas nama NH Dini yah? mendadak jadi pengen baca lagi; lupa sama cerita2nya :p *mulai mengatur jadwal berburu buku ke gramed*

  5. 2009 November 12

    ho oh… nh dini salah satu penulis yang setia terhadap tema cinta. huhuhu cinta deh sama eyang yang satu itu. omong-omong berburu, aku kangen banget ke toko buku. *lagi ngga gaul, nih. di rumah meluluk :D *

  6. 2009 November 27

    Salam kenal. Saya suka juga baca chicklit, teenlit bahkan cerita untuk anak-anak. Maklum dunia penerbitan ketika saya anak-anak dan remaja tidak seheboh sekarang, yang banyak pilihannya.

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS