It Was Oranje

2009 May 11
by fortherose
Since June 1910

Since June 1910

Jangan pernah merasa terpaksa saat kamu memang terpaksa pergi ke suatu tempat di luar kota tempat tinggalmu. Seperti halnya saya yang ‘terpaksa’ ikut menemani Ibu (dan teman-temannya) saya ke Surabaya. Awalnya saya berpikir pasti akan menjadi asisten dadakan beliau dan harus mengikuti perjalanan beliau dan teman-temannya. Itu sebabnya saya menghilangkan keinginan untuk menjelajahi tempat-tempat menarik macam Masjid Ceng Ho atau House of Sampoerna, karena tempat-tempat tersebut tampaknya tidak menarik bagi mereka.

Maka sampailah kami di Surabaya. Mobil yang membawa kami masuk ke sebuah hotel berdinding putih bergaya klasik. Hotel Majapahit. Dari luar bangunan ini terlihat begitu mungil. Ketika kami masuk ke dalam lobi yang ternyata cukup luas dengan interior jaman dahulu berpadu modern, kami disambut dengan pelayanan super ramah dari para pegawai hotel. Saya tidak berlebihan, memang super ramah, kok.

Setelahnya kami dibawa keluar dari lobi, menuju kamar. Ternyata hotel ini meluas ke belakang. Lagi-lagi saya terpana dengan keindahan hotel ini. Vintage, itu kata yang tepat untuk menggambarkannya. Hotel-hotel yang pernah saya inapi biasanya selalu bergaya modern dengan interior minimalis atau mewah sekalian. Itu sebabnya saat menemukan hotel yang Indonesia sekali ini, saya begitu terkagumkagum.

Salah seorang pegawai hotel yang turut mengantar kami ke kamar membuka obrolan. Dari dialah akhirnya saya menyadari kalau hotel ini adalah hotel Majapahit yang terkenal itu. Hotel ini sudah berdiri sejak tahun 1910. Didirikan oleh Sarkies bersaudara dengan nama hotel Oranje. Hotel ini terkenal karena turut menjadi saksi sejarah perebutan bendera pada saat Indonesia berperang melawan Belanda. Karena itu sebuah lukisan besar beberapa pejuang Indonesia dengan bendera merah putih terpasang di lobi hotel.

Saya selalu salut pada orang-orang yang niat untuk melestarikan peninggalan-peninggalan sejarah. Yang membuat rasa kagum saya bertambah adalah, tidak seperti bangunan-bangunan bersejarah yang pernah saya lihat, hotel Majapahit ini benar-benar terawat dan bersih sekali. Tidak heran bangunan ini mendapatkan penghargaan untuk pelestarian arsitektur.

Sama seperti keadaan di luar, interior dalam kamar pun bernuansa klasik. Walau begitu memang sudah dipadukan dengan sentuhan modern, mungkin untuk kenyamanan para tamu yang memang kebanyakan dari luar negeri. Terlihat juga dari kamar mandinya yang bergaya barat dengan ruang shower, toilet dan bath up yang terpisah. Tapi tentu saja dengan sentuhan Indonesia klasik.

Karena setiap sore kami selalu pulang ke hotel untuk beristirahat sejenak sebelum kembali melakukan kegiatan malam harinya, saya mengisi waktu dengan duduk di teras belakang kamar yang menghadap dan memiliki akses langsung ke kolam renang, ditemani sebotol minuman dan cemilan, lalu mulai membaca buku yang memang saya bawa dari rumah sambil sesekali memperhatikan tamu-tamu lain yang sedang berenang.

psstt, katanya banyak yang duduk-duduk di bangku-bangku ituh

psstt, katanya banyak yang 'duduk-duduk' di bangku-bangku ituh

Tapi seperti halnya bangunan-bangunan kuno, terlebih sisa-sisa dari zaman perang, selalu ada cerita-cerita seram di dalamnya. Sama halnya dengan hotel ini. Ada yang bercerita sempat melihat sesuatu di kamarnya. Yang lain berkata bahwa mereka sama sekali tidak menganggu. Tapi tidak terjadi hal aneh apapun pada saya dan Ibu selama menginap di sini. Bahkan saya kerap sendirian dalam kamar saat Ibu dan teman-temannya sedang mengobrol di lobi dan bulu kuduk saya sama sekali tidak merinding. Cerita-cerita seperti itu memang tergantung orang yang mendengarnya, mau percaya atau tidak. Begitu, kan? Alih-alih sibuk ketakutan, saya justru sibuk mengagumi hotel ini.

Nah, seperti yang saya bilang di awal, jangan merasa terpaksa saat kamu memang terpaksa pergi ke suatu tempat. Karena tidak ada yang tahu apa yang akan kamu temukan di tempat tersebut. Just stay positive and you’ll find something that makes you smile at those place.

PS. foto-foto lainnya bisa dilihat di facebook saya :D

Tapi seperti halnya bangunan-bangunan kuno, terlebih sisa-sisa dari zaman perang, selalu ada cerita-cerita seram di dalamnya. Sama halnya dengan hotel ini. Ada yang bercerita sempat melihat sesuatu di kamarnya. Yang lain berkata bahwa mereka sama sekali tidak menganggu. Tapi tidak terjadi hal aneh apapun pada saya dan Ibu selama menginap di sini. Bahkan saya kerap sendirian dalam kamar saat Ibu dan teman-temannya sedang mengobrol di lobi dan bulu kuduk saya sama sekali tidak merinding. Cerita-cerita seperti itu memang tergantung orang yang mendengarnya, mau percaya atau tidak. Begitu, kan? Alih-alih sibuk ketakutan, saya justru sibuk mengagumi hotel ini.

Nah, seperti yang saya bilang di awal, jangan merasa terpaksa saat kamu memang terpaksa pergi ke suatu tempat. Karena tidak ada yang tahu apa yang akan kamu temukan di tempat tersebut. Just stay positive and you’ll find something that makes you smile at those place.

No comments yet

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS