Surat Terakhir
Kukirimkan surat padamu sebelum kata yang tersimpan ini lenyap tertelan detik yang terus berputar. Aku lelah berpikir bahwa aku kehilanganmu, padahal memiliki genggammu pun tidak. Dan pada satu pagi yang biasa, aku di sini tersadar bahwa aku memang kehilanganmu. Kamu yang dulu kerap menyapa dengan ucapan tak biasa, membuatku yang sebenarnya terganggu dari kegiatan menoreh kata, tersenyum senang. Kamu yang dulu tiba-tiba mempertanyakan keputusan seseorang yang (mungkin) bukan milikmu. Kamu yang selalu membuatku kehilangan kata. Kamu yang ada dalam ruang kepalaku. Bukan kamu yang ada di hadapanku. Bukan kamu yang datang ke kota ini demi orang lain.

Padahal baru kemarin aku mengucapkan selamat tinggal, lalu kamu muncul dalam mimpiku setelah sekian lamanya absen. Apakah kedatanganmu karena ucapan selamat tinggal itu?
Meski begitu, Hujan, aku akan tetap mengucapkan selamat tinggal. Walau mimpi itu (kembali) menggodaku. Itu sebabnya kata itu kutorehkan di tempat ini. Agar aku tidak kembali menerimamu tanpa sadar. Ini adalah pengingatku.
Jadi, akan kuulangi apa yang kukatakan kemarin.
Hujan, selamat tinggal.

