Resensi Prosa “Jejak Air”
——————–
Pertama, untuk teknik penulisan, penulis saya nilai bagus. 7/10—andai saja dia perhatikan ada “jam tiga” dan “pukul setengah empat” berdekatan dan lakukan sesuatu, nilainya bakal naik jadi 8/10.
“Jejak Air” mau bercerita tentang seorang dokter forensik yang bingung, apakah dia bermimpi melakukan sesuatu atau benar-benar melakukan sesuatu. Apakah jejak air di rumahnya buatan si Benji, atau perempuan yang kemarin malam. Cerpen berjalan membawa pembaca bersama si dokter menelusuri kejadian kemarin malam, dengan alur acak. Ada orang-orang yang berteriak. Ada tiga orang yang dia temui. Atau dua? Yang jelas malam sebelumnya si dokter mementung kepala seorang laki-laki dengan sekop. Laki-laki itu saksi yang melihat si dokter menguburkan seorang perempuan. Perempuan itu tidur dengan si dokter malam sebelumnya, dan terbunuh karena melihat “ruangan kenangan” yang tak seharusnya dia lihat. Nah, itu sudah dua orang. Yang satu lagi? Perempuan yang mengajak bicara si dokter yang pusing memikirkan dua mayat, satu di bawah pohon, satu di danau. Pada pembacaan pertama saya keliru mengira perempuan yang ini sama dengan yang satu lagi, yang mati. Gara-gara kalimat “Suara perempuan itu muncul lagi.” Beberapa kalimat sebelumnya “perempuan itu” berkicau di hadapan si dokter. Ah, tidak jelas.
Si dokter sepertinya tokoh dengan segi kejiwaan menarik—pengoleksi tusuk gigi bekas pakai, menyimpan gaun bernoda merah dan sepatu yang cuma sebelah, dan sepertinya mudah membunuh orang. Kaitkan itu dengan profesinya sebagai dokter forensik—pemeriksa mayat orang yang mati tak wajar—dan khayalan saya memancing pengembangan tokoh ini lebih lanjut, dokter forensik yang belajar dengan praktik langsung, membunuh orang dengan berbagai cara lalu mempelajari apa saja akibat tiap cara pada mayat manusia. (Dan saya teringat seorang kenalan, peneliti entomologi forensik, dan penelitian uniknya menyimpan mayat, eh, bangkai babi dalam berbagai kondisi yang dia cek secara berkala untuk mengetahui apakah belatung yang makan bangkai berumur sehari sama dengan yang ada di bangkai berumur seminggu. Begitulah asyiknya penelitian forensik!) Sayang, dalam “Jejak Air” kita baru dapat sedikit sekali aksi si dokter forensik pembunuh. Kalau penulis mau, tentunya dengan didukung riset, bisa saja si dokter dijadikan tokoh utama novel thriller.
Atau yang seperti itu sudah pernah ada? Penulis tahu HBO, berarti kenal TV kabel, dan mungkin nonton serial Monk, Dexter, dan/atau CSI. Detektif nyentrik dengan kejiwaan aneh, pembunuh berantai yang mempesona, dan tim forensik kepolisian. Hmmm.
Kesimpulannya, saya lumayan suka dengan cerpen ini. Menarik, dengan tokoh yang berpotensi, dan ceritanya pun tidak “bolong” (dalam arti tidak satupun bagiannya yang lupa dituntaskan). Alurnya memang tidak bisa dipahami dengan sekali baca, tapi pembacaan kedua dan ketiga membuat saya makin respek terhadap kerapian jalinan plotnya. 8/10 untuk plot.
Dengan sedikit sentuhan penyunting, “Jejak Air” bisa lebih bagus. Bahkan saya pikir layak menjadi bab pembuka satu novel, novel tentang dokter forensik merangkap pembunuh.
=============================
Andya Primanda
Lahir di Jakarta tahun 1981. Sekarang bekerja sebagai staf redaksi di penerbit Kepustakaan Populer Gramedia walaupun sempat kuliah biologi dua kali. Jalan masuknya ke dunia penerbitan adalah sebagai penerjemah buku-buku sains. Masih lebih senang dianggap penerjemah daripada editor; sampai sekarang namanya belum pernah ada di sampul buku, walau sudah sering ada di halaman kolofon. Percaya bahwa dosa terbesar penerjemah adalah mengubah makna apa yang diterjemahkannya. Juga percaya bahwa yang paling penting dalam tulisan, apapun, adalah kejernihan makna; sisanya cuma embel-embel.

