Natal

2008 December 18
by fortherose

dalam salju

dalam salju

Dingin. Tetes-tetes salju masih menumpuk di tepi jendela flat tempatku tinggal. Kate, roommate-ku sedang dibawa kekasihnya untuk merayakan Natal bersama keluarganya di Amerika. Aku sendiri di tempat ini. Suasana seperti ini selalu membuatku teringat padamu, Hujan. Kamu sedang apa?

Hujan, aku masih tak sanggup pulang Natal tahun ini. Bahkan desakan Papa dan Mama di telepon setengah jam yang lalu tak mampu membuatku mengepak koper dan lari ke bandara. Hanya kamu yang sanggup melakukan itu. Tapi kamu tidak menginginkannya, bukan?

Tadi siang aku menghabiskan waktu dengan menyusun ulang kotak-kotak di atas lemari. Kamu tahu apa yang kutemukan? Foto kita. foto kita bertiga; aku, kamu, dan Aki. Kita bertiga tersenyum lepas dalam foto itu. Aku masih ingat betul. Itu Papa yang memotret, saat kita berdua akhirnya berhasil menghibur Aki yang sedang sedih karena dikecewakan entah untuk yang keberapakali oleh orangtuanya. Tapi tentu saja saat itu Aki hanya tersenyum senang karena kita berusaha menghibur dan mengajaknya merayakan Natal bersama. Kamu yang tiba-tiba jatuh terpeleset genangan airlah yang membuat Aki tertawa terbahak-bahak.

Kamu tahu, Hujan, itu adalah tawa terakhir untuk kita bertiga. Mengingatnya membuat rasa rindu dan perih muncul bersamaan.

Rudolp the red nosed reindeer

Had a very shiny rose

And if you ever saw it

You would …..

Ah, iklan coklat khusus Natal dengan Rudolp si rusa sebagai tokoh utamanya. Hujan, kamu pasti suka sekali bila berada di sini saat perayaan Natal seperti sekarang. Kidung-kidung Natal, salju, kerlap-kerlip lampu, pohon natal yang besar di taman. Semua hal tentang Natal yang kamu sukai. Tapi tentu saja tidak ada Aki di sini. Hanya ada aku yang malah akan membuatmu bertambah marah.

Ya, kamu marah, kan? Kamu marah gara-gara ciuman waktu itu. Tapi yang tidak kumengerti, Hujan, marahmu itu kau tujukan untukku atau dirimu sendiri? Aku selalu bertanya-tanya sejak hari itu. Tapi kamu harus tahu, Hujan, bukan ciuman itu yang membuat Aki pergi.

Hei, Hujan, salju semakin menumpuk. Aku hanya bisa melihat warna putih dari balik jendela ini. Tampak kosong. Kalau kutuang anggur dalam gelas di tanganku ini, akankah warna merahnya menyebar dan menghadirkan kamu dan Aki?

Ini adalah Natal ketigaku tanpa kamu dan Aki. Tentu sama bagimu, bukan, Hujan? Natal ketiga tanpaku dan Aki. Tapi mungkin bagi Aki, sejak hari itu, hari-harinya adalah Natal, karena ia tak pernah jauh dari Tuhan. Beruntung sekali dia. Seharusnya kita ikut bahagia, Hujan, bukannya saling melarikan diri dalam rasa marah dan penyesalan.

Ah, aku hanya bisa ngomong saja.

*

Gelapnya langit dikalahkan oleh kerlip lampu-lampu Natal di sepanjang jalan sebulan belakangan ini. Aku tidak tahu sudah berapa lama berdiam di tepi jendela ini. Dan kenapa aku merasa tidak ada yang aneh setelah menenggak bergelas-gelas anggur ini. Kenapa aku tidak mabuk seperti yang kuinginkan?

Sebentar lagi lonceng Natal akan segera berdentang, dan pada akhirnya tahun ini tidak akan ada ubahnya dengan dua Natal lalu.

Rrrr…

Dering ponsel itu membuatku sedikit terkejut. Nomor tak dikenal. Siapa?

“Halo…”

“…”

Gelas di tanganku bergetar. Tanganku yang bergetar. Apakah kamu?

“Hujan?”

Aku masih boleh memanggilmu Hujan, bukan?

“Bulan… Merry Christmast…”

Rasa yang kerap muncul itu –rindu dan perih- datang kembali. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun ini, aku merasakan Natal yang sesungguhnya.

“Selamat Natal, Hujan.”

Gambar dipinjam dari sini

No comments yet

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS