Jalan Menuju Pulang

2008 November 15
by fortherose

Going Home

Going Home

Hujan, tempo hari aku bertemu dengan seorang sahabat lama yang selama ini terpisah benua. Setelah sejenak saling mengingat masa lalu, dia berkata padaku, “sebenarnya, Lan, aku ingin pulang.”

“Bukankah kau sudah pulang?” tanyaku heran, mengira dirinya tengah bercanda. Dan dia tersenyum, tapi matanya tidak. Belakangan kutahu bahwa yang dirinya maksud dengan pulang adalah kembali ke Inggris, negara yang ditinggali bersama sang kekasih yang telah memutuskan hubungan mereka.

Hal tersebut mengingatkanku akan perkataanmu entah kapan itu – aku lupa tepatnya. “Menurutmu, apa arti rumah sebenarnya, Lan?” Kadang aku tak mengerti kenapa kamu selalu bertanya hal-hal yang tidak biasa. Aneh. Bagian mana yang tidak aneh saat kita sedang asyik membicarakan buku milik temanku, tiba-tiba kamu menanyakan arti rumah?

“Rumah adalah tempat tinggal,” jawabku sekenanya. Dan kamu menghela napas. Aku tahu kamu tidak suka bila aku tidak menganggap serius pertanyaan-pertanyaan anehmu. Tapi aku sedang tidak mood berfilosofi.

Saat aku bertemu dengannya lagi, di bandara, dirinya tengah menenteng dua koper besar. Wajahnya berseri-seri. Aku tahu hubungan dengan kekasihnya pasti telah tersambung kembali.

“Aku akan pulang, Lan.” Serunya riang setelah kami saling mencium pipi.

“Jadi, rumahmu di sana, sekarang?”

Dia tersenyum lagi. Ah, tapi sejak tadi dia memang tersenyum. “Di manapun, Lan, asal bersama dia.”

Hujan, dia begitu bahagia telah mendapatkan kembali rumahnya. Sebenarnya aku sependapat dengannya. Mengutip ucapan seorang teman dalam blog miliknya; rumah adalah tempat di mana hatimu berada. Dan hati miliknya – sahabat lamaku itu – berada dalam diri kekasihnya di Inggris. Di situlah rumahnya terletak. Bukan di bilangan Dharmawangsa, tempat kedua orangtuanya tinggal. Bukan di Yogyakarta, tempatnya lahir dan bertumbuh.

*

Hujan, sekarang aku tanya padamu, “di mana rumah bagimu?”. Kamu tidak bisa menjawabnya, kan? Karena kamu tidak tahu di mana letak rumahmu. Bukan begitu?

Semula aku yakin betul rumahmu adalah kekasihmu yang putus sambung menjalin hubungan denganmu. Lalu datanglah perempuan itu. Perempuan yang langsung mencuri sebagian hatimu. Perempuan yang dalam hitungan bulan akan melangsungkan pernikahannya dengan lelaki lain. Dan aku tahu bahwa perempuan itu pun mulai kehilangan jalan pulang saat mengenalmu. Semakin hari aku merasa tidak hanya mereka berdua yang membuatmu tersesat mencari jalan pulang. Ada aku, si pendengar sejati.

Boleh, kan, aku geer sedikit saat tahu kamu mempercayakan segalanya di tanganku. Perasaanmu pada kekasihmu, perasaanmu pada perempuan itu. Perasaan mereka yang dikatakan padamu. Semua bentuk hadiah dan saran yang kamu percayakan padaku untuk memilihnya. Saat ini kamu sedang berdiri di sebuah jalan bercabang tiga dan bingung harus memilih jalan mana. Jalan menuju kekasihmu, jalan menuju perempuan itu, atau jalan menujuku.

*

Rumah adalah tempat di mana hatimu berada. Hatiku, Hujan, berada padamu. Tidak sepertimu yang kebingungan, aku tahu persis di mana rumahku. Sayang, aku terkunci di luar. Pintu gerbangnya tertutup rapat dan aku tidak tahu apakah suatu saat nanti akan terbuka atau tidak sama sekali.

Gambar diambil dari sini

No comments yet

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS