Kusebut Kamu Hujan
2008 September 30
Saya menemukan (lagi) genangan Hujan yang masih tercecer dalam sela-sela memori. ah, Hujan, andai kamu tahu sosokmu kerap membuat jemariku menari. Dulu. Andai kamu tahu, tulisan-tulisan yang kamu baca dalam blogku adalah kamu.
Well, semoga ini ceceran terakhir yang saya temukan
mengingatmu sama seperti ketika aku menatap hujan dari balik jendela. penuh dengan rasa rindu bercampur sendu dan hela napas. segelas coklat panas bertabur marshmallow pun tak sanggup melenyapkan dingin yang menguar dari ingatanku tentangmu.padahal aku selalu mengira bahwa aku tak pernah benar-benar patah, seperti aku tak pernah benar-benar jatuh padamu. ternyata, seperti halnya hujan, tetesmu terus merintik tanpa henti dan sadar ternyata aku patah, seperti aku jatuh padamu.
mengingatmu sama seperti ketika aku menampung air hujan dalam tangan. perlahan lenyap dari genggaman yang tak pernah kuat. namun tetesmu yang terus merintik mengisi kembali genggaman itu. kemudian menghilang kembali. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi….
mengingatmu adalah ketika aku memandang hujan. karena kamu adalah hujan.



aku juga masih suka memandangi hujan; meski sudah agak lelah memandangi senja.
kenapa lelah, Han? padahal senja begitu melekat pada image dirimu