Surat #13 Mu

Hei, kupikir aku melihatmu kemarin di lorong itu. Hanya sekelebat memang, tapi aku sempat melihatmu melirikku. Seseorang pernah berkata padaku, kamu tidak akan datang begitu saja ke hadapan seseorang. Kamu lebih suka pada orang yang mengejarmu, orang yang berusaha untuk mendapatkanmu, bukan orang yang hanya duduk manis menunggu. Mungkin itulah yang ingin kamu katakan lewat matamu, kemarin.

Continue reading

Surat #12 Menunggu

 

Surat ini saya tulis untuk seseorang. Seseorang yang saya tunggu kehadirannya. Iya, surat ini untuk kamu.

Saya selalu diberitahu bahwa kamu akan datang tepat pada waktu yang telah ditentukan. Tidak terlalu cepat. Tidak terlambat. Tepat. Tapi ada saat dimana saya lelah menunggumu. Jika memang kamu berniat hadir, kenapa tidak sekarang? kenapa harus nanti?

Tapi saat saya utarakan pertanyaan ini pada orang-orang terdekat, saya selalu mendapat jawaban yang sama; bahwa kamu akan datang pada waktunya. Jadi saya datang pada Tuhan dan bertanya pada-Nya, “Kenapa saya harus menunggu? Berapa lama lagi, Tuhan?”

Dan saya melihat Tuhan hanya tersenyum sambil berkata, “bukankah kamu sudah mengetahui jawabnya?”

Continue reading

Surat #11 Mungkin

Saya sering membayangkan diri saya menetap bersamamu. Dalam kepala saya namamu selalu terkait dengan hujan, boots, coat, dan toko buku mungil, serta jalanan yang bisa saya tapaki tanpa harus bersaing dengan motor atau bahkan mobil.

Mungkin saya tak membutuhkan mobil. Yang saya butuhkan hanya berpasang-pasang sepatu boots dan warna-warni koleksi coat dalam lemari.

Continue reading